IDB INDONESIA IDB IDBEON ID BEON ID Beyond IDB IDB INDONESIA ID BEYOND BeonCorp Beon Corp MENGATASI ANAK SULIT MAKAN – MauSehat.Com
You Are Here: Home » Warta Sehat » Kesehatan Ibu & Anak » MENGATASI ANAK SULIT MAKAN

MENGATASI ANAK SULIT MAKAN

Bagi setiap pasangan orang tua kehadiran seorang anak merupakan anugerah yang tak ternilai. Maka tidaklah mengherankan jika dari kecil tidak sedikit orang tua yang selalu memanjakan si anak karena rasa sayang yang begitu besar. Setiap orang tua pasti menginginkan setiap anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan normal. Banyak cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan si anak ketika dalam masa pertumbuhan. Sayangnya keinginan orang tua belum tentu sama dengan keinginan anak. Tatkala si anak mogok makan, orang tualah yang kebingungan dan tidak jarang diantara para orang tua yang frustasi karena selalu gagal membujuk anaknya untuk makan. Nah bagaimana menyikapinya, simak berikut ini.
Penyebab anak susah makan disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
Faktor genetik/keturunan: anak yang lahir dari ibu yang mempunyai riwayat susah makan ternyata akan diturunkan kepada anaknya.
Keterusan dengan makanan bayi: orang tua terlambat mengenalkan makanan padat sehingga terjadi penolakan.
Orang tua yang terlalu overcontrol kepada anaknya sehingga tidak bebas memilih makananannya sendiri.
Lebih suka susu/cemilan.
Sedang dalam kondisi tertekan atau tidak bahagia.
Karena infeksi atau sakit.
Dampak mogok makan ini tentu saja akan berpengaruh terhadap kurangnya asupan gizi anak. Jika para orang tua menginginkan anak-anaknya sehat, cerdas, dan aktif maka syarat mutlak adalah tercukupinya kebutuhan gizi saat anak dalam masa tumbuh kembang. Kecukupan gizi anak dapat dilihat dari pertumbuhan fisiknya yang normal sehingga orang tua dapat mengukur sendiri apakah anak kecukupan gizi atau tidak.
Tidak masalah jika anak lincah dan energik karena ini menandakan bahwa anak cukup mendapatkan asupan gizi. Yang perlu diperhatikan adalah jika anak tampak lesu, tidak bergairah dan pendiam. Anda harus selidiki kembali apakah makanan yang anda berikan sudah memenuhi kebutuhan gizinya atau belum.
Berat Badan (BB) yang terus bertambah sesuai dengan usia. Berat normal bayi ketika lahir berkisar 2,5 – 4 kg dan kenaikan BB pada bulan pertama umumnya mencapai 1 – 1,5 kg. Pada bulan kedua kenaikannya mencapai ¾ – 1 kg dan bulan ketiga antara ½ – ¾ kg, semakin bertambah usia kenaikan BB nya tidak terlalu besar. Dan biasanya setelah usia 4-5 bulan BB menjadi dua kali lipat dari BB lahir, usia setahun menjadi 3 kali lipat dan usia 2 tahun menjadi 4 kali lipat dari BB lahir. Namun ini bukan harga mati asalkan plus -minusnya 2 kg masih dianggap normal.
Tinggi Badan (TB) ketika baru lahir umumnya 45 – 52 cm. Ketika usia setahun TB-nya mencapai 1,5 kali panjang lahir, usia 4 tahun mencapai 2 kali panjang lahir. Jadi misalkan TB waktu lahir mencapai 50 cm, maka ketika usia setahun TB-nya mencapai 75 cm dan umur 4 tahun mencapai 100 cm. Jika asupan gizinya kurang ketika berumur satu tahun maka TB-nya tidak akan mencapai 75 cm. Selain itu
faktor keturunan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan anak. Dalam kasus ini perlu diperhitungkan antara BB dengan TB sehingga dapat diketahui apakah anak cukup mendapatkan asupan gizi atau tidak.
Mengatasi anak sulit makan memang tidak semudah yang kita bayangkan, peranan orang tua sangat menentukan agar anak kembali berselera ketika di meja makan. Yang perlu diperhatikan ketika anak enggan membuka mulutnya sewaktu makan yaitu :
Jangan ada unsur paksaan. Semakin orang tua memaksa, anak semakin tidak menyukai makanan. Sebisa mungkin orang tua harus mampu menciptakan suasana makan yang baik sehingga setiap aktivitas di meja makan atau ketika anak disuapi menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Jangan cekokin anak dengan makan – makanan junk food (minuman bersoda, snack yang mengenyangkan, dll). Makanan jenis ini tinggi akan kalori tetapi miskin vitamin dan mineral. Asupan tinggi kalori justru memicu terjadinya obesitas.
Jangan mengandalkan susu tatkala anak tidak mau makan. Susu hanyalah sebagai penyempurna setelah anak makan, jadi bukanlah pengganti makanan padat. Terlalu mengandalkan susu, tentu ada kebutuhan zat gizi lain yang tidak terpenuhi seperti karbohidrat dan serat, hati- hati dengan “Milk Anemia”.
Untuk mengatasi kekurangan gizi pada anak yang susah makan dapat dipertimbangkan untuk memberikan food supplement yang berisi zat – zat gizi penting yang diperlukan untuk pertumbuhan meliputi Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin dan Mineral.

About The Author

Number of Entries : 50

Leave a Comment

© 2012 - www.mausehat.com

Scroll to top