Aktivasi In Vitro, Harapan Bagi Wanita Penderita Primary Ovarian Insufficiency untuk bisa Hamil dan Melahirkan
Sistem reproduksi wanita diciptakan dengan sedemikian kompleksnya dan saling berkaitan. Secara fisik bentuk payudara wanita juga akan membesar ketika usia dewasa sesuai dengan fungsinya. Secara alami seorang wanita dewasa akan mengalami menstruasi, melahirkan kemudian menopause. Rentang waktu menopause pada wanita biasanya terjadi pada usia antara 48-52 tahun.
Namun jika sebelum rentang waktu usia tersebut sudah tidak menstruasi atau ovulasi lagi sedangkan usia masih produktif, ini dapat mengancam infertilitas (kesuburan) pada wanita. Kondisi ini disebut sebagai “Primary Ovarian Insufficiency” (Insufisiensi Ovarium Primer) yang menyebabkan seorang perempuan mustahil untuk hamil. Insufisiensi Ovarium Primer disebut juga sebagai kegagalan ovarium premature yaitu ketika seorang wanita kehilangan fungsi normal ovarium sebelum usia 40 tahun. Akibatnya hormone esterogen akan menurun secara signifikan sehingga akan mengganggu proses ovulasi dan menstruasi. Kondisi ini tidak bisa dikategorikan sebagai menopause premature karena dalam beberapa kasus masih ada wanita yang mengalami ovulasi dan hamil, namun umumnya dalam kasus ini wanita akan mengalami infertilitas.
Jika Anda mengalami ini, bukan berarti putus harapan. Sebuah Tehnik baru yang diciptakan oleh para peneliti dari Stanford University School of Medicine menemukan cara yaitu dengan menginduksi pertumbuhan telur primordial. Meski masih studi awal, seorang wanita berhasil hamil dan melahirkan setelah mendapat perawatan dengan tehnik ini, demikian yang dirilis oleh SteadyHealth.
Bahkan penulis senior studi Aaron Hsueh, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di Stanford mengatakan bahwa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wanita tersebut masih memiliki primordial folikel primer dan sekunder meski sangat kecil, dan meskipun sudah tidak mempunyai siklus menstruasi harapan itu masih ada.
Tehnik ini disebut “Aktivasi In Vitro”. Seorang perempuan memiliki sekitar 800.000 folikel saat dilahirkan ujar Profesor Huseh. Sebagian besar akan tetap aktif dan hanya sekitar 1.000 mulai berkembang setiap bulannya untuk menghasilkan telur setiap siklus menstruasi.
Dua puluh tujuh perempuan (usia rata-rata 37 tahun) yang menderita insufisiensi ovarium primer berpartisipasi dalam studi ini. Mereka telah berhenti menstruasi rata-rata 6,8 tahun sebelum studi dilakukan. Tim menemukan 13 perempuan yang memiliki sedikit folikel yang dapat digunakan pada tahap selanjutnya. Kemudian ovarium ini dibagi dan mendapat perawatan, setelah itu ditransplantasikan di dekat saluran tuba dan dipantau dengan scan ultrasound. Selain itu perempuan-perempuan ini juga menjalani tes tingkat hormone.
8 dari 13 perempuan tersebut menunjukkan tanda-tanda adanya perkembangan folikel. Ketika diberi hormon stimulasi ovulasi, lima dari subyek penelitian berhasil mengembangkan telur matang dan siap untuk menjalani prosedur ktivasi in vitro yang akan dibuahi dengan sperma pasangan masing-masing.
Studi ini baru berkembang dan belum dapat menjamin semua wanita yang menjalani prosedur ini dipastikan hamil. Namun studi ini mempunyai potensi dan harapan yang besar.
Sumber : SteadyHealth
(bt)