You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Perubahan Dini Pada Penderita Demensia

Perubahan Dini Pada Penderita Demensia

Demensia atau pikun sebenarnya bisa dipantau sejak dini yang menurut riset ditandai dengan perubahan perilaku dan kepribadian. Umumnya demensia diderita oleh para orangtua. Gejala demensia muncul sekitar enam bulan sebelumnya yang ditandai dengan perilaku mudah sedih, marah, menarik diri dari teman-teman dan lingkungan keluarganya.

Para peneliti melakukan riset dengan diagnosa dari Mild Behavioral Impairment (MBI) yang umumnya digunakan oleh para dokter untuk mengenali perubahan otak yang dapat menyebabkan kondisi neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer. Jika hal ini mudah teridentifikasi dengan cepat, maka penanganan dan pengobatan bisa cepat dilakukan, terutama bagi orang yang beresiko.

Tim peneliti juga merancang ceklis MBI bagi para dokter dengan menilik pada perilaku yang melibatkan suasana hati, tingkat motivasi, kontrol impuls, kesesuaian sosial, dan pengalaman sensorik pasien. Pengasuh/caregiver pasien juga dapat menggunakan versi ceklis tersebut. Ceklis berisi 34 pertanyaan tentang kualitas hidup lansia. Dokter akan mempertimbangkan perilaku yang terjadi selama 6 bulan terakhir, perubahan perilaku serta pola/lamanya perilaku.

Beberapa pertanyaan yang diajukan seperti: apakah seseorang moody, cepat frustasi atau tidak sabar, perilaku di depan umum, mudah curiga dengan seseorang? Menurut Maria C. Carrillo, PhD, dari Alzheimer’s Association, daftar ini sangat membantu para dokter mengevaluasi pasien yang mungkin saja menderita demensia lebih dini.

Al zheimer selama ini dianggap sebagai penyakit otak yang mematikan, dengan ciri kehilangan memori. Gejala awal juga meliputi cemas, disorientasi, bingung, resah. Penggunaan MBI sebaiknya lebih didalami lagi untuk mencegah over diagnosa karena tidak semua lansia yang sensitif menjadi mengembangkan demensia. Uji masih terus dilakukan untuk pengukuran ini. Dokter sebaiknya mengawasi lebih lama dan teliti.

Sementara University of Waterloo scientists mengembangkan teknologi eye-scan non-invasif yang dapat membantu mengenali protein demensia spesifik di otak sebelum seseorang mengembangkan gejala. Dan tim dari Columbia University melaporkan bahwa tes identifikasi bau ditahap awal dan mengendus yang dapat berguna dalam memprediksi penurunan kognitif.

Sumber : health.com

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top