Peregangan Otot Lidah Terapi Bagi si “Pendengkur”
Mendengkur bisa jadi meru
pakan hal yang biasa bagi sebuah pasangan, namun tidak sedikit pula yang menimbulkan masalah bagi pasangan lainnya. Banyak diantaranya yang terganggu dengan sura dengkuran bahkan sering terjaga dari tidur.
Mendengkur atau sleep apnea terjadi ketika jaringan otot di sekitar tenggorokan kendur/melemah sehingga menghalangi saluran udara untuk beberapa detik hingga otak menyadari dan mengirimkan sinyal agar terjadi kontraksi otot sehingga pernapasan kembali normal.
Suara dengkuran dihasilkan dari getaran udara yang melalui jaringan yang tersumbat. Dalam jangka waktu panjang, sleep apnea berkontribusi terhadap munculnya gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, stroke dan serangan jantung jika tidak segera diobati.
Melalui sebuah tehnik terapi lidah berupa latihan peregangan otot lidah menunjukkan adanya pengurangan sleep apnea sebesar 50%. Riset dengan skala lebih besar saat ini sedang berlangsung di Taiwan dan melibatkan 120 pasien sleep apnea.
Alat yang disebut Tongue Muscle Trainer (Latihan Otot Lidah) berupa bola plastic berisikan udara ini sebagai alat bantu peregangan otot di sekitar lidah. Bola plastic berukuran kapsul obat ini diletakkan ke dalam mulut dan dengan arahan dari instruktur, bola tersebut akan di dorong oleh lidah dalam berbagai posisi seperti kesamping, atas atau bawah. Pasien harus menahan posisi bola hingga mencapai target tekanan yang dibutuhkan, masing-masing posisi setidaknya membutuhkan waktu 30 detik. Salah satu contoh latihan yaitu dengan menggerakkan lidah ke arah pipi dan posisi bola mendorong lidah dari arah yang berlawanan.
Beberapa otot yang mengontrol lidah juga terhubung pada jaringan otot tenggorokan. Latihan ini akan memperkuat jaringan otot lidah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan ini sangat efektif. Sebuah penelitian di University of Quebec di Kanada tahun lalu menunjukkan bahwa latihan ini selama satu jam selama seminggu pada 10 orang yang menggunakan alat yang sama menunjukkan adanya pengurangan sleep apnea sebesar 48%. Riset ini di terbitkan dalam Canadian Respiratory Journal.
Namun demikian, riset dengan skala yang lebih besar masih perlu dilakukan untuk melihat manfaat jangka panjang.
Sumber : dailymail
(bt)