Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi
Pentingnya gizi dalam kehidupan bangsa Indonesia, sudah dirintis oleh almarhum Prof. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, sejak awal kemerdekaan tahun 1950. Saat itu beliau diangkat oleh Menteri Kesehatan, almarhum dokter J Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR) yang lebih dikenal sebagai Instituut voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman.
Hari Gizi Nasional pertama kali dicanangkan oleh LMR pada pertengahan tahun 1960-an, dan dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga saat ini. Hari Gizi Nasional selalu diperingati setiap tahunnya untuk mengingat dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan tanggal 26 Januari 1951.
Sejak saat itu pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Di kemudian hari disepakati bahwa hari gizi nasional ditetapkan menjadi setiap tanggal 25 Januari.
Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa hari Minggu (25/1/2015) merupakan Hari Gizi Nasional. Gaungnya kurang membahana dibandingkan dengan hari-hari besar yang selalu diperingati setiap tahun. Padahal, Indonesia masih menghadapi tantangan masalah gizi.
Data Global Nutrition Report (2014) menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki masalah gizi yang kompleks. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya prevalensi stunting, prevalensi wasting, dan masalah gizi lebih.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, menunjukkan prevalensi gizi kurang pada balita fluktuatif dari 18,4% pada 2007, menurun menjadi 17,9% pada 2010. Namun meningkat lagi menjadi 19,6% pada 2013.
Obesitas sentral merupakan kondisi sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis. Obesitas sentral adalah bila laki-laki memiliki lingkar perut lebih dari 90 cm, atau perempuan dengan lingkar perut lebih dari 80 cm. Secara nasional, prevalensi obesitas sentral pada 2013 adalah 26.6%, lebih tinggi dari prevalensi pada 2007 (18,8%).
Adapun masalah stunting atau pendek pada balita ditunjukkan dengan angka nasional 37,2%.
Masalah gizi memiliki dampak yang luas, tidak saja terhadap kesakitan, kecacatan, dan kematian, tapi juga terhadap pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas dengan produktivitas optimal.
Kualitas anak ditentukan sejak terjadinya konsepsi hingga masa balita. Kecukupan gizi ibu selama hamil hingga anak berusia di bawah 5 tahun, serta pola pengasuhan yang tepat, akan memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi unggul.
Perlu dukungan seluruh lapisan masyarakat dan lintas sektor untuk menanggulangi permasalahan gizi di negeri ini. Masalah gizi juga dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti ekonomi, sosial, budaya, pola pengasuhan, pendidikan juga lingkungan, dan bukan hanya masalah kesehatan saja.
Pada Hari Gizi Nasional (HGN) 2015 ini, tema yang diusung oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan adalah Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes, menuturkan makanan bergizi tidak selalu mahal. Terpenting adalah makanan yang mengandung zat gizi seimbang, meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.
“Dulu hal itu disebut dengan makanan 4 sehat 5 sempurna, terdiri dari nasi, lauk, buah, sayur (4 sehat) dan ditambah susu menjadi 5 sempurna. Kini konsep itu diperbaiki menjadi makanan bergizi seimbang,” kata Tjandra dalam surat elektroniknya Minggu (25/1/2015).
Dia menyebutkan makanan sehat tidak dilihat dari berat asupan per jenis bahan pangan (nasi, terigu, daging, ikan, dan lainnya), tapi lebih dilihat dari aspek asupan zat gizi secara total makanan.
Sumber zat gizi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral bisa diperoleh dari ikan, kedelai, kacang-kacangan lainnya. Vitamin dan mineral diperoleh dari sayuran lokal seperti bayam, kangkung, tomat dan lainnya, serta buah-buahan. “Jadi perlu dikembangkan ‘warung hidup’ untuk sumber makanan bergizi,” ungkap Tjandra.
(rsh/bt)