Apakah Diet Keto Lebih Baik daripada Diet umumnya??
Diet Keto menjadi salah satu pola diet/penurunan berat badan yang sedang ngetrend. Banyak peneliti mengklaim diet ini dapat mengurangi kejadian sindrom metabolik. Namun tidak semua sepakat. Salah satunya adalah para peneliti dari Bethel University Minnesota, mereka menolak statemen bahwa diet keto mampu mengurangi kejadian sindrom metabolic.. Namun bagi para ahli diet mereka mengamini kalim tersebut.Hal ini dibuktikkan dengan sebuah riset kecil yang melibatkan 30 orang dewasa yang mempunyai gangguan sindrom metabolik (tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak tubuh di sekitar lingkar pinggang, dan kadar kolesterol tidak normal). Hasilnya berat badan turun (IMB/Indeks Massa Tubuh), mengurangi dampak sindrom metabolik dan menurunnya massa lemak tubuh.
Peneliti membagi para partisan menjadi 3 kelompok. Satu kelompok mengikuti diet ketogenik tanpa olah raga, satu lagi diet A.S tanpa olahraga, diet AS dengan olahraga 30 menit sekitar 3-5 kali/minggu. Hasilnya kelompok diet ketogenik berhasil menurunkan berat badan, IMB dan lemak tubuh dibandingkan dua kelompok lainnya.
Diet ketogenik atau disebut diet Keto adalah diet/pola makan dengan tanpa/sedikit karbo, tinggi lemak dan mengganti karbo dengan lemak. Tubuh akan merespon pengurangan karbo dengan proses ketosis. Diet ini awalnya diterapkan pada anak epilepsi dan harus dibawah pengawasan ahli medis. Karbohidrat merupakan bahan bakar untuk otot dan jantung. Jika kurang, maka akan mengambil cadangan zat lain. Tanpa karbohidrat, kadar insulin tubuh menurun dan lemak dilepaskan dari sel. Liver mengubah lemak menjadi keton, pilihan energi tubuh yang kedua. Sedang untuk menurunkan berat badan, tetap harus diperhatikan lebih dalam.
Menurut Jennifer McDaniel seorang ahli gizi dari Academy of Nutrition and Dietetics dikutip oleh Healthline, bahwa diet ketogenik sepertinya aman dalam jangka pendek (contoh penelitian 10 minggu). Belum ada bukti jangka panjang dari penelitian.
Lauri Wright, PhD dari University of South Florida mengemukakan dalam jangka panjang, diet ini mempunyai risiko dan berbahaya. Ekskresi keton dapat meningkatkan tekanan pada ginjal, sehingga ada kekhawatiran efek ke depan pada fungsi ginjal. Selain juga kekhawatiran tentang hilangnya massa otot akibat mengandalkan keton untuk bahan bakar.
Menurut Wright walau diet keto memang menurunkan berat badan, bukan berarti tidak ada pola diet lain yang tujuannya sama dan efektif. Kehilangan berat badan lebih banyak karena kehilangan massa air dibanding massa lemak. Hasil studi menunjukkan bahwa massa air lebih cepat kembali dan terkadang berat badan akan lebih cepat naik lagi sebagai respon penurunan pola makan dan perubahan tingkat metabolisme. Yang meningkatkan issue kesehatan adalah lemak tubuh. Studi sendiri di AS menyebutkan sekitar 35% warganya menderita sindrom metabolik dan akan meningkat menjadi 50-60%. Sedangkan cara untuk mengatasinya salah satunya dengan penurunan berat badan. Banyak ahli diet menyatakan bahwa sindrom ini akan membaik ketika banyak aktivitas (atau olahraga).
American Academy of Nutrition and Dietetics merekomendasikan diet sehat jantung bagi mereka yang memiliki sindrom metabolik, termasuk asupan buah dan sayuran yang tinggi, rendah lemak, biji-bijian, makanan laut,daging, unggas dan minyak. McDaniel mengatakan pengurangan karbohidrat sangat membantu untuk menurunkan berat badan, tapi tidak perlu serumit kelompok ketogenik dalam studi Bethel. Diet menurunkan pola makan karbohidrat memang lebih membantu, tetapi tidak perlu sampai ekstrim. Konsumsi jenis karbo yang berkualitas tinggi yang kaya akan gizi dan serat misalnya sayuran, kacang, bijian.
Dana Hunnes, PhD, seorang ahli diet senior di Ronald Reagan UCLA Medical Center di Los Angeles berpendapat bahwa diet keto untuk menurunkan berat badan ini seriring dengan adanya perubahan pola makan standar di AS. Biasanya standar diet AS sekitar 30 persen lemak, sering bahkan tinggi lemak jenuh, 50 persen atau lebih karbohidrat. Jenis karbohidrat yang dikonsumsi umumnya karbohidrat olahan yang tinggi gula, juga tinggi garam dan rendah serat dan nutrisi bermanfaat lainnya. Sehingga lebih baik dibandingkan dengan pola diet lain yang juga menurunkan sindrom metabolik.
Sumber : healthline.com
(ast/bt)