Dibalik Manisnya Gula Jagung
Sirup Fruktosa Jagung masih jadi trend, tetapi bukan berarti tanpa perdebatan sama sekali. The Corn Refiner’s Association pernah mempublikasikan sebuah pernyataan dari para ahli medis dan juga ahli gizi jika sirup jagung fruktosa tidak ada bedanya dengan gula tebu. Sejauh ini, studi efek samping dari HFCS (High Fructose Corn Syrup) mengarah pada obesitas, kanker, penyakit jantung, gagal hati, demensia, dan kerusakan gigi dan lainnya.
Alasan mengapa harus membatasi konsumsi HFCS :
-
Metabolisme HFCS berbeda dengan gula tebu. Gula jagung diekstrak dengan proses kimia yang tinggi. Sehingga, gula dipecah menjadi glukosa dan fruktosa dalam proporsi dan bentuk yang berbeda dari gula tebu. Maka tubuh tidak bisa memecahnya seperti gula alami untuk dicerna didalam darah dan disimpan di hati, fruktosa dari HFCS dapat mengganggu hora mukosa usus yang bertugas melindungi sehingga memalingkan partikel makanan yang tidak tercena dan bakteri akan memasuki aliran darah.
-
Studi Profesor Barry Popkin M., PhD dari University of North Carolina di Chapel Hill melaporkan bahaya HFCS dan bagaimana hal itu dapat menyebabkan obesitas. Karena HFCS tidak dimetabolisme seperti tebu, itu diserap oleh tubuh lebih cepat, melewati insulin dan produksi leptin (hormon yang dibuat oleh sel-sel lemak untuk mengatur rasa lapar). Minuman berkalori dan manis dapat meningkatkan kalori berlebihan. Dengan demikian, peningkatan konsumsi HFCS memiliki hubungan dengan epidemi obesitas. -
HFCS digunakan pada jenis makanan yang berkualitas rendahan. HFCS lebih murah daripada jenis pemanis lainnya dan tidak memiliki nilai gizi yang nyata. Keberadaannya dalam makanan apapun merupakan indikasi produk ini mudah dan murah didapat
-
HFCS mengandung merkuri. Analisis oleh Food and Drug Administration mengungkapkan tingkat racun merkuri dan kontaminan dalam produk HFCS. Hal ini sebagai salah satu efek samping pengolahan dan bisa menjadi hal sensitif bagi kesehatan anak.
Sumber : dailyhealthpost
(ast/bt)
Baca juga :
Pemelihara Kesehatan Tulang Dari Terumbu Karang
Comments (1)