Waspadai Virus H7N9
Tahun 2003, dunia kesehatan digemparkan dengan adanya virus SARS dan H5N1 (flu burung). Kini dunia kesehatan kembali digemparkan dengan adanya virus H7N9 (virus flu burung terbaru) yang berawal di China dengan 131 kasus dan 36 diantaranya meninggal.
Demikian yang dilaporkan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, yang menghadiri acara World Health Assembly ke 66 di Jenewa Swiss, 21 Mei 2013, dengan pembicara DirJen WHO, Menteri Kesehatan Cina, DirJen OIE, Asisiten DirJen WHO, DirJen Kementerian Kesehatan Cina dan Pejabat FAO.
Virus H7N9 ini berbeda dengan jenis flu burung sebelumnya, yang biasanya lebih ganas pada binatang namun tidak pada manusia, sementara H7N9 dampaknya lebih ganas pada manusia namun tidak pada hewan serta berpotensi meluas dan menyebar. Data dari Rumah Sakit Umum Shanghai mencatat bahwa 14 pasien yang diberikan obat Tamiflu 3 diantaranya terjadi resitensi obat dan 2 diantaranya meninggal. Data ini kemudian diterbitkan dalam Jurnal ‘The Lancet” pada tanggal 28 Mei 2013.
Gambaran klinik H7N9 menurut Dirjen Kementerian Kesehatan Cina yaitu : terjadinya gejala flu berat, laboratorium darah normal, atau dapat juga leukopenia, penurunan limfosit dan trombosit, pneumonia (radang paru) yang memburuk dalam waktu 1-2 hari dan berkembang menjadi hipoksemia (kekurangan oksigen pada arteri). Masa inkubasi virus H7N9 terjadi rata-rata 5 hari (2-7 hari), dimana 69% kasus terdapat dugaan paparan pada unggas atau pasar yang menjual unggas, sejauh ini tidak ditemukan bukti penularan antar manusia.
Di Indonesia sendiri sudah melakukan langkah antisipasi dengan menitik beratkan pada kegiatan Point of Entry (POE). Mengawasi pintu keluar masuk Negara, penguatan surveilans epidemiologi, koordinasi dengan Dinas Kesehatan Propinsi dan Rumah Sakit (diminta untuk menilai kesiapan logistic serta sarana dan mewaspadai serta melaporkan bila ada kasus mencurigakan), kesiapan laboratorium, informasi ke masyarakat serta hubungan internasional, melalui WHO dan lain-lain. Demikian yang disampaikan oleh Prof. Tjandra.
Sumber : pppl.depkes, everydayhealth.
(vie/bt)