Waspadai Kontaminasi Logam Berat pada Beras
Selama beberapa tahun lalu, Mary Lou Guerinot terus memantau lahan percobaan di tenggara Texas, untuk memahami penyerapan logam berat tanaman padi dari tanah dan unsur-unsur lain yang mengkhawatirkan. Dari hasil pantauan tersebut, Dia menemukan bahwa irigasi sawah yang menggunakan metode tradisional, maka beras akan menyerap arsenik dengan cepat. Namun, jika demi mengendalikan arsenik lalu mengurangi sumber air irigasi, maka beras akan menyerap kadmium yang juga merupakan elemen yang berbahaya.
Dr Guerinot adalah seorang ahli genetika molecular dan profesor biologi dari Dartmouth College, menekankan bahwa kepadatan arsenik atau kadmium yang terdeteksi di lahan percobaan, masih cukup aman. Namun, hal itu cukup mengkhawatirkan ilmuwan : Sebagai makanan yang paling banyak dikonsumsi di dunia, beras juga merupakan zat penyerap senyawa logam yang utama di alam.
Ada banyak laporan menunjukkan, bahwa kandungan arsenik telah terdeteksi dari berbagai produk olahan beras dalam makanan havermot (sereal bar) hingga makanan bayi, dan hal ini telah menimbulkan kecemasan pada konsumen.
Beberapa perusahaan pengolahan makanan telah mengambil insiatif untuk memeriksa kandungan arsenik dalam produk terkait, US Food and Drug Administration (FDA- Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) merekomendasikan kepada masyarakat untuk memastikan keanekaragaman jenis sereal yang dikonsumsi, sebaiknya minimalkan dampak negatif kesehatan yang disebabkan penyerapan berlebihan atas makanan tunggal. (satu jenis produk makanan).
Namun, yang mencemaskan tidak hanya arsenik dan kadmium, dua zat ini kemungkinan juga terdapat di dalam tanah sebagai unsur yang dihasilkan alam, atau bisa juga merupakan produk samping industri. Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa padi memiliki kemampuan untuk mengakumulasi semua logam dari tanah, di antaranya termasuk merkuri. Temuan-temuan ini mendorong para ilmuwan dan petani untuk mengambil tindakan baru, berusaha mengembangbiakkan tanaman padi-padian yang tidak terlalu sensitif terhadap kontaminasi logam.
Kandungan logam berat pada brown rice paling tinggi, hal ini disebabkan unsur-unsur seperti arsenik tertimbun dalam bekatul (lapisan luar yang melekat pada butiran beras) dan sekam padi, dalam proses selanjutnya akan digiling hingga terkelupas. Departemen Pertanian AS memprediksi bahwa kadar arsenik dalam bekatul dapat mencapai hingga 10 kali dari beras.
Meskipun dosis yang terkandung dalam beras itu umumnya sangat kecil (satuan konsentrasi mengadung dosis 1 mikrogram dalam 1 kg) namun, tetap saja berdampak pada kesehatan. Saat ini FDA sedang mempertimbangkan apakah akan menetapkan batas aman terhadap kandungan arsenik pada beras.
Sumber : erabaru
(rsh/bt)