You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Perlu Tidaknya Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara

Perlu Tidaknya Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara

kemoterapiBagi sebagian wanita pasien kanker payudara tahap awal mempunyai kemungkinan kecil membutuhkan kemoterapi ulangan. Namun bagi yang lain kemoterapi merupakan satu-satunya pengobatan yang mampu mempertahankan kehidupan.

Kanker stadium awal tahap 1 dan tahap 2, mempunyai potensi harapan hidup yang lebih tinggi karena tahap ini belum terjadi penyebaran kanker baik ke jaringan sekitar maupun getah bening. Umumnya tindakan yang dilakukan dengan jalan operasi, terapi hormon atau radiasi.

Seperti diketahui bahwa kemoterapi dirancang untuk membunuh sel-sel kanker yang tumbuh begitu pesat, sayangnya kemoterapi juga mampu menghancurkan sel sehat. Inilah alasan mengapa kemoterapi menyebabkan rambut rontok, rentan terhadap infeksi oportunistik. Efek samping lainnya juga menyebabkan kelelahan, mual dan penurunan berat badan. Pada jangka panjang, kemoterapi akan berdampak pada kesuburan, organ tubuh dan meningkatkan risiko pengembangan kanker lainnya. Seharusnya ribuan pasien kanker bisa menghindari efek kemoterapi jika mereka mengetahui dampak dari kemoterapi yang berulang.

Studi yang dilakukan secara acak pada 6.693 pasien kanker payudara dari sembilan Negara Eropa menunjukkan efek positif terhadap Tes Genom (The New England Journal of Medicine).

Seluruh wanita dalam studi ini menderita kanker stadium awal. Untuk menentukan faktor risiko genom, para peneliti menggunakan tes signature 70 gen yang disebut Mamma Print. Risiko klinis juga dipertimbangkan seperti ukuran tumor, tingkatan dan keterlibatan getah bening.

Pada kelompok 1.550 pasien ditemukan berada pada risiko klinis tinggi tetapi mempunyai genom yang rendah. Beberapa diantaranya menjalani kemoterapi namun ada juga yang tidak.

Diantara mereka yang tidak menjalani kemoterapi, mempunyai tingkat kelangsungan hidup lima tahun tanpa metastasis (penyebaran kanker dari organ tubuh ke organ tubuh yang lain) sebesar 94 persen. Bagi mereka yang menjalani kemoterapi, 1,5 persen lebih tinggi.

Sayangnya penelitian hanya melihat pasien kanker payudara yang positif estrogen-reseptor. Sedangkan pada pasien yang estrogen-reseptor negative, HER2-positif, dan triple-negatif tidak termasuk dalam studi. Karena jumlahnya relative kecil, sehingga tidak jelas apakah harus menggunakan informasi genom ini untuk semua pasien.

Penelitian ini hanya ingin melihat apakah studi genomic bisa memberikan jawaban bagi pasien kanker payudara tentang perlu tidaknya pengobatan. Namun hingga saat ini kemoterapi masih berperan dalam memerangi kanker yang merupakan racun bagi banyak pasien.

Studi genom masih jauh dari yang diharapkan, meski kemoterapi masih memainkan peran namun setidaknya menjadi lebih selektif.

Sumber : healthline

(bt/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1661

Leave a Comment

© 2012 - www.mausehat.com

Scroll to top