You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Merasa Bersalah Karena Menyantap Makanan Justru Memicu Kenaikan Berat Badan

Merasa Bersalah Karena Menyantap Makanan Justru Memicu Kenaikan Berat Badan

images 1Menurunkan berat badan seringkali berakhir dengan sindrom yoyo (turun naik) yang pada akhirnya membuat putus asa. Pilihan makanan yang tepat serta waktu makan yang tepat selama menjalankan progam penurunan berat badan sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan. Hal serupa juga harus tetap dijalankan untuk mempertahankan berat badan ideal.

Banyak orang yang salah menerapkan program penurunan berat, mereka berpikir bahwa jika tidak makan seharian akan mempercepat penurunan berat badan. Justru sebaliknya, supaya metabolisme tubuh tetap aktif dan efektif dalam membakar kalori, tubuh membutuhkan makanan yang tepat dan baik.

Selain pilihan makanan yang tepat dan baik, factor psikis juga berpengaruh dalam keberhasilan pogram penurunan berat badan.

Menurut para ilmuwan adanya perasaan bersalah ketika konsumsi makanan pantangan dan jika dilakukan secara berulang, justru akan memicu kenaikan berat badan. Sebaliknya, orang yang tidak merasa khawatir dengan makanan yang disantapnya cenderung mendapatkan berat badan yang ideal. Seorang psikolog mengatakan bahwa pada orang-orang yang menikmati sepotong besar kue coklat tanpa rasa khawatir tetap langsing dibandingkan mereka yang selalu merasa bersalah yang justru mempunyai kemungkinan penambahan berat badan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal terbaru jurnal Appetite edisi online, menunjukkan bahwa cara pandang terhadap sepotong kue coklat yang lezat sama pentingnya dengan menghitung kalori yang akan memperluas lingkar pinggang.

Inggris adalah Negara konsumen cokelat tertinggi peringkat ketujuh di dunia dengan rata-rata konsumsi 7,7 kg per tahun atau setara dengan 375 gram/minggu. Secara umum cokelat digemari karena rasa, aroma dan tekstur. Namun karena tinggi lemak dan gula, konsumsi cokelat secara berlebihan telah terbukti meningkatkan risiko obesitas.

Namun demikian penelitian terbaru oleh para ahli di University of Canterbury di Selandia Baru menunjukkan efek perilaku manusia juga penting, seperti yang dikutip dari dailymail. Perasaan merasa bersalah setelah konsumsi coklat justru akan mendorong untuk meninggalkan program diet.

images 2Untuk membuktikannya Dr Roeline Kuijer dan Jessica Boyce mendapat 300 relawan berusia 18-86 dengan menanyakan kebiasaan makan dan apakah sedang menjalankan program penurunan berat badan. Mereka juga menanyakan apakah ketika makan kue coklat membuat mereka merasa bersalah atau menikmatinya.

Hasilnya menunjukkan bahwa 27 persen relawan yang merasa bersalah dan 73 persen menikmatinya. Dan ketika para peneliti melakukan kontrol terhadap berat badan mereka 18 bulan kemudian, didapati bahwa pada kelompok yang merasa bersalah terjadi peningkatan berat badan secara signifikan. Sedangkan pada kelompok yang menikmati cokelat rata-rata lebih sukses dalam menurunkan berat badan.

Paul Buckley seorang psikolog dari Cardiff Metropolitan University mengatakan bahwa wanita cenderung lebih mempunyai perasaan bersalah daripada pria ketika dihadapkan dengan makanan.

Menurutnya perasaan bersalah ini sangat mirip dengan bulimia, dimana penderita akan makan apa yang disuka tapi menyesalinya setelah itu. Perilaku ini cukup sulit untuk berubah.

(bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top