Ibu Hamil yang Terpapar Polusi Udara Berisiko Melahirkan Anak dengan ADHD
Tak dapat dipungkiri bahwa polusi udara berdampak pada gangguan kesehatan tubuh. Kurangnya lahan penghijauan di kota-kota besar menjadikan tingkat polusi semakin tinggi. Dampak polusi tidak saja dirasakan oleh orang dewasa, namun janin di dalam kandungan juga akan terkena dampak polusi ketika terlahir nanti.
Sebuah studi terbaru yang melibatkan 233 wanita hamil (tidak merokok)yang diamati sejak hamil, melahirkan hingga anaknya tumbuh besar. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan dari Ibu yang terpapar komponen polusi udara (hidrokarbon polisiklik aromatic atau PAH) memiliki risiko 5 kali lebih besar berperilaku ADHD (Attention Deficit Hyperactivity) dibandingkan dengan anak yang dilahirkan dari Ibu yang tidak perpapar PAH. Penelitian dari the Columbia Center for Children’s Environmental Health di the Mailman School of Public Health ini telah dipublikasikan secara online dalam jurnal Plos One.
Menurut Frederica Perera, DrPH, PhD, seorang profesor dari Environmental Health Sciences at the Mailman School menyatakan bahwa paparan PAH yang tinggi pada kota New York memainkan peran yang tinggi pada anak dengan ADHD. Penemuan ini dianggap memprihatinkan karena pasti akan berhubungan dengan kinerja sekolah, hubungan sosial dan pekerjaan.
The Centers for Disease Control (CDC) di Amerika sendiri memperkirakan sekitar 10% anak-anak usia 4-17 tahun memiliki satu dari tiga tipe ADHD: ADHD inatentif dimana anak susah sekali fokus dan konsentrasi mudah pecah/buyar serta tidak teroganisir, ADHD impulsif dan hiperaktif, serta kombinasi keduanya. Masih sedikit yang diketahui tentang ADHD selain dari gen, ternyata lingkungan juga memainkan peranan penting.
PAH merupakan polutan beracun yang dihasilkan berbagai sumber misalnya polusi kendaraan, cerobong asap rumah, pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar berbasis fosil. Peneliti mengukur tingkat paparan PAH ibu menggunakan adduct PAH–DNA dalam darah ibu yang diperoleh pada saat persalinan. Paparan PAH pada masa kanak-kanak diukur dengan metabolit PAH dalam urin pada usia 3 atau 5 tahun. Masalah perilaku ADHD dinilai menggunakan Conners Parent Rating Scale.Temuan saat ini membangun studi CDC sebelumnya yang menghubungkan paparan PAH masa prenatal dengan masalah perilaku dan kognitif, termasukkaitandenganketerlambatan perkembangan pada usia 3 tahun, berkurangnya IQ pada usia 5 tahun dan gejala kecemasan/depresi serta masalah perhatian pada usia 6 dan 7 tahun. 
Meski demikian mekanisme paparan PAH dalam meningkatkan kemungkinan ADHD masih belum dapat dipahami sepenuhnya. Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap risiko ADHD yaitu gangguan endokrin, kerusakan DNA, stres oksidatif dan gangguan faktor pertumbuhan plasenta yang mengakibatkan penuruna npertukaran oksigen dan nutrisi.Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami hubungan ini, para peneliti mengatakan hasil inidapat menjadi perhatian karena anak-anak dengan ADHD memiliki risiko lebih besar tentang masalah perilaku, kinerja akademis yang buruk dan pendapatan ekonomi yang lebih rendah.
(ast/bt)