IDB INDONESIA IDB IDBEON ID BEON ID Beyond IDB IDB INDONESIA ID BEYOND BeonCorp Beon Corp Antara Bipolar dan Kehamilan – MauSehat.Com
You Are Here: Home » Warta Sehat » Kesehatan Ibu & Anak » Antara Bipolar dan Kehamilan

Antara Bipolar dan Kehamilan

ibu-hamilBipolar disorder/kelainan bipolar, dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada ibu hamil. Kondisi ini menyebabkan perubahan mood/suasana hati termasuk episode manik (tinggi) dan depresi (rendah). Banyak perempuan dengan bipolar (BD) berpikir dirinya tidak akan bisa punya anak. Hal ini sebenarnya tidak tepat, hanya saja lebih baik mempertimbangkan kesehatan, pro dan kontra dan sebaiknya didiskusikan dengan dokter yang terbiasa membantu pengobatan. Umumnya yang akan dipertimbangkan oleh dokter adalah seberapa bagus BD akan dikelola, obat apa yang akan diminum, seberapa parah kondisi, potensi resiko apa yang akan diterima pada bayi.

Pada saat kehamilan, emosi seorang wanita memang bisa turun naik dan gejala BD dapat menonjol sekali pada masa ini. Jika terjadi dan tidak diobati, dapat berisiko pada bayi. Yang paling dipertimbangkan adalah obat. Penstabil mood, seperti divalproex-sodium (Depakote) atau lithium (Eskalith) dapat berbahaya bagi janin yang sedang berkembang. Satu studi baru-baru ini yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menyimpulkan bahwa lithium, terutama bila diminum selama trimester pertama, dapat meningkatkan risiko malformasi jantung pada janin. Studi tersebut juga melaporkan bahwa dari 663 bayi yang terpapar obat tersebut, hanya 16 yang ditemukan memiliki malformasi ini.

Hasil dari tinjauan penelitian menunjukkan bahwa valproate diminum selama kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat neurologis pada bayi. Dalam banyak kasus, cacat tampaknya berakhir pada usia 12 bulan. Penulis meninjau bahwa data yang mereka gunakan berkualitas rendah dan perlu dilakukan studi tambahan. Intinya bahwa obat BD mempengaruhi perkembangan janin termasuk diantaranya obat anti cemas, anti depresan, anti psikotik. Semua obat mesti dipertimbangkan bersama dengan dokter. Hubungan antara BD dengan janin memang masih belum jelas dan perlu riset terutama tentang genetika. Namun, bisa juga dapat memungkinkan BD diturunkan ke janin.

Selain kekhawatiran selama kehamilan, ada beberapa risiko bagi ibu dan bayinya setelah melahirkan. BD meningkatkan risiko psikosis pascamelahirkan/postpartum psychosis. Gejala meliputi depresi pasca melahirkan dan dapat dialami oleh wanita BD atau tidak. Depresi pasca melahirkan kondisi langka yang serius dan butuh perawatan segera. Hal ini mempengaruhi 1 dari 1000 wanita. Gejalanya meliputi mania berat atau depresi yang dimulai dalam dua sampai tiga hari setelah melahirkan. Halusinasi dan khayalan juga umum terjadi pada penyakit mental postpartum. Ini dapat sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Menyusui juga bisa menimbulkan beberapa tantangan bagi ibu baru dengan BD. Pertama, ada kekhawatiran tentang obat yang dapat berpengaruh dari ibu ke bayi melalui ASI. Beberapa antidepresan tampaknya tidak menimbulkan risiko ini, namun antipsikotik bisa berbahaya. Menyusui juga bisa mengganggu tidur, kegiatan penting dalam mencegah kambuhan bipolar. Jika memang sudah memiliki bayi, agar kondisi tetap stabil sepulang dari rumah sakit, yang dapat dilakukan adalah ganti obat, menghentikan pengobatan, suplementasi gizi, perawatan diri (misal tidur cukup), atau juga menjalankan terapi ECT (electroconvulsive therapy), olahraga teratur untuk meningkatkan serotonin secara alami, terapi bicara, terapi perilaku kognitif, bergabung dengan grup pendukung, konsumsi makanan mengandung omega- 3 (misal biji rami selain makan beberapa porsi seminggu dengan ikan rendah merkuri), makan berbasis nabati.

Jadi, pastikan jika memang berencana ingin punya anak, bicarakan semuanya dengan keluarga, dokter/ahli kesehatan.

Sumber :healthline.com

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

© 2012 - www.mausehat.com

Scroll to top