Harapan Baru Untuk Penderita Ebola
Virus Ebola masih saja menjadi ke khawatiran di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia yang beberapa hari lalu sempat dihebohkan oleh salah satu TKI asal madiun. Pria berusia 29 tahun ini menderita demam tinggi sejak kepulangannya dari Liberia, Afrika dan dinyatakan sebagai suspect Ebola.
Merebaknya kasus Ebola yang telah menewaskan sekitar 5000 orang di Afrika Barat dan di berbagai tempat lain memaksa sejumlah Ilmuwan untuk melakukan riset. Para peneliti dari Natural News berhasil menemukan bahwa genetik seseorang dapat berfungsi sebagai benteng pertahanan alami terhadap virus Ebola.
Sebuah Penelitian yang baru saja diterbitkan beberapa hari lalu dalam Jurnal Sains ini menggunakan tikus percobaan yang sengaja dibiakkan dengan virus. Para ilmuwan mempelajari reaksi yang beragam dan mengukur bagaimana gen yang berbeda pada tikus mampu merubah infeksi.
Penelitian ini merupakan studi pertama pada tikus yang melibatkan virus Ebola. Dan hasilnya sangat penting untuk dijadikan acuan dalam pengembangan vaksin.
Science World Report mencatat bahwa fatal atau tidaknya sebuah penyakit tergantung pada tubuh seseorang. Ada yang mampu bertahan dan tidak terserang penyakit, ada yang berkembang menjadi penyakit, dan yang paling rentan berujung pada kematian.
Para Ilmuwan di University of North Carolina di Chape Hill menciptakan tikus dengan rekayasa genetik dan dibiakkan dengan penyakit. Sebagian besar tikus mewakili 10% gen dari total populasi tikus dan sebagian lagi dirubah menjadi tikus khusus untuk mewakili 90% keragaman dari berbagai genetik tikus.
Hasilnya dilaporkan oleh BBC bahwa 19% dari tikus yang terlibat dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya gejala Ebola. Dan 70% sisanya menjadi lebih rentan dan mudah sakit serta menunjukkan tanda-tanda peradangan hati.
Andrew Easton, profesor virologi di University of Warwick, mengatakan kepada BBC bahwa, meskipun penelitian ini menunjukkan hasil dan berguna, namun tidak serta merta dapat diterapkan pada manusia karena varietas genetik mereka jauh lebih besar.
Sumber: Natural Health
(bt)