Asperger…Salah Satu Gejala Autis pada Anak
Autis sudah lazim diketahui bahwa adanya suatu kelainan pada perkembangan sistem syaraf anak. Prevalensi Autis di Indonesia menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Diah Setia mengatakan,diperkirakan terdapat 112.000 anak di Indonesia menyandang autisme, pada rentang usia sekitar 5-19 tahun.
Salah satu gejala autis disebut sebagai sindrom asperger yaitu kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya. Anak dengan sindrom asperger umumnya memiliki tingkat kepintaran akademisi yang tinggi.
Anak dengan sindrom asperger biasanya tidak akan terlihat jika hanya bertemu sekilas, sehingga umumnya orang menggangap sebagai anak biasa yang juga dapat berprestasi. Hanya saja, anak dengan asperger mengalami kesulitan mengendalikan perilaku tertentu. Terkadang anak menjadi malas untuk belajar dan pergi bersekolah.
Menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman merupakan salah satu terapi bagi anak dengan sindrom asperger supaya mempunyai minat kembali untuk belajar. Tentu hal ini harus melibatkan antara anak, orangtua dan guru.
Enam langkah berikut ini dapat dijadikan pedoman untuk membantu anak sinddrom asperger :
-
Menggali informasi mengenai sindrom asperger.
Bagi orangtua dan pendidik, sangat penting untuk belajar dan mengetahui tentang sindrom ini dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi kesiswaan secara khusus sehingga pendidik/orangtua juga dapat mengendalikan perilaku, misalnya :
-
Anak sindrom asperger tidak bisa dituntut dalam hal kedisiplinan waktu. Terkadang untuk menyelesaikan tugas, mengumpulkan PR dan tugas tambahan sekolah membutuhkan waktu tambahan tersendiri.
-
Kelola lingkungan. Setiap perubahan dapat saja meningkatkan kecemasan bagi mereka. Berusahalah membuat jadwal yang konsisten dan hindari perubahan mendadak.
-
Membuat agenda seimbang. Pertimbangkan untuk membuat jadwal visual (terlihat) yang seimbang mencakup kegiatan sehari-hari. Pantau dan resturktur jadwal jika diperlukan.
-
Berbagi agenda. Siswa dengan Asperger memiliki kesulitan membedakan informasi penting dan tidak penting, juga informasi yang berlaku sekarang ataupun informasi yang sudah lewat. Sehingga diperlukan sebuah penegasan yang jelas yang akan membantu anak memahami apa yang sebaiknya dilakukan.
-
Penyederhanaan bahasa. Gunakan bahasa yang sederhana, ringkas, tidak berbicara cepat dan teratur. Jelas dan spesifik ketika memberikan petunjuk. Siswa dengan asperger kesulitan membaca yang tersirat, memahami konsep abstrak misalnya sarkasme atau menafsirkan ekspresi wajah.
-
Mengelola perubahan rencana. Persiapkan diri mereka jika akan terjadi perubahan rencana kegiatan dan katakan dengan jelas. Perubahan yang tidak jelas dan mendadak dapat membuat mereka sangat cemas.
-
Memberikan rasa man. Anak asperger akan merasa gelisah dengan apa yang terjadi esok sehingga bingung dengan apa yang akan dilakukan. Gunakan list kegiatan untuk mengetahui apa yang sudah dilakukan untuk membantu perkembangan dan mengurangi tingkat stress nya.
-
Puji jika baik. Pujilah keberhasilan usahanya jika sukses, dengan kata-kata yang sukses.
-
Jangkau orangtuanya. Orangtualah yang mengetahui perilaku anak dalam kesehariannya. Hal ini penting untuk membangun metode dan pola komunikasi belajar antara orangtua dan pendidik selama tahun ajaran.
-
Persiapan di kelas. Atur kelas yang nyaman untuk anak asperger sehingga tidak menganggu kenyamanan murid yang lain.
-
Mendidik teman-teman sebaya nya dan mendorong interaksi sosial. Anak asperger biasanya kesulitan dalam interaksi sosial, tapi bukan berarti tidak bisa menjadi teman dan punya persahabatan yang menyenangkan dan abadi. Umunya anak sindrom asperger sering mengalami bullying atau bahan ejekan. Maka diperlukan pemahaman kepada siswa lain terhadap keberadaan anak sindrom asperer.
-
Kolaborasi dengan program pendidikan yang ada.
-
Mengelola perilaku dengan pola akademis yang tepat, modifikasi lingkungan dan ekspetasi.
Diharapkan dengan metode ini, anak asperger dapat menjalani masa sekolahnya dengan baik dan berprestasi.
Sumber : dari berbagai sumber
(ast/bt)