Perlukah Gunakan Kembali Botol Minum Plastik???
Praktis dan ekonomisnya kemasan sebuah produk memang gencar digunakan oleh produsen masing-masing produk saat ini. Karena alasan praktis jugalah, umumnya banyak orang menggunakan kemasan-kemasan praktis tersebut lebih dari satu kali. Dan yang paling sering digunakan yaitu kemasan botol minuman plastik. Sebelum menggunakan secara berulang, simaklah yang berikut ini :
-
Biasanya sebelum dipakai, botol akan dicuci dahulu dengan sabun tapi pada dasarnya tidak meninggalkan kuman yang ada diseputar mulut botol. Serta yang perlu diperhatikan, jangan mencuci botol dengan air panas karena akan mengkerut dan terjadi perubahan struktur plastik botol tersebut.
-
Plastik tidak bersifat statik. Bahaya menggunakan plastik botol minum daur ulang resikonya dua kali lipat: struktur plastik mudah berubah seiring pemakaian dan potensial masuknya bahan kimia terlarut dalam air. Suhu (terutama panas) dan frekuensi penggunaan botol penyebab plastik botol daur ulang mudah terurai. Satu komponen plastik yaitu BPA (Bisphenol A) yang dikenal sebagai pengganggu endokrin. Terutama bagi anak-anak, hal ini tidak disarankan selain juga mereka cenderung suka bermain dan lupa mencuci tangan sehingga banyak bakteri di seputar mulut botol.
-
Pastikan membeli air kemasan yang sehat dan bukan diisi dengan air masak dari kran/PAM. Jika terkena sinar matahari maka akan mudah berubah mineral di dalamnya. Ada sebuah studi di Amerika Serikat tentang air masak dari pam/kran yang ditelusuri oleh the National Resources Defense Council mengungkapkan bahwa air kemasan bisa berisi toluena , o-xylene, arsenik, bakteri, fluoride, dan phatalates di berbagai merk botol. Beberapa botol air mineral juga bisa mengandung kontaminan bakteri, bahan kimia organik sintetis (seperti pelarut industri, bahan kimia plastik atau trihalomethanes/produk reaksi kimia antara klorin dan bahan organik dalam air) atau anorganik kontaminan (misal arsenik). -
Tidak ada 100% botol minum daur ulang yang tidak mengandung bahan pencuci. Sebuah riset yang dipublikasikan di tahun 2011 dalam the Environmental Health Perspectives journal menemukan bahwa 72% botol dan produk dari plastik mengandung pencuci estrogen sintesis. Dan setiap jenis plastik yang biasa digunakan dalam kemasan makanan (polypropylene dan polystyrene) diuji positif dalam beberapa kasus dan semua jenis plastik bisa terpapar. Studi dari University of Alberta di Kanada menyatakan bocornya propilen walau dalam laboratorium dapat merusak fungsi protein otak.
Dengan penjelasan ini, ada baiknya para ahli menyarankan untuk meminum lebih baik dari botol kaca daripada plastik karena tidak mengalami proses kimia pencucian/leaching.
Sumber : dailyhealthpost
(ast/bt)