Protein Penyebab Psoriasis Ditemukan
Psoriasis bukanlah jenis penyakit kulit yang menular. Meski demikian psoriasis akan mengurangi tingkat kepercayaan diri penderita. Kulit yang kemerahan, bersisik serta menebal umumnya membuat risih si penderita. Secara medis, psoriasis tidak bisa disembuhkan.
Namun kini, harapan baru muncul bagi penderita psoriasis setelah para ilmuwan dari Case Western Reserve melalui sebuah studi menemukan protein penyebab psoriasis yang melanda sekitar 125 juta orang di dunia. Dari sekitar 50.000 protein di dalam tubuh manusia, para peneliti memusatkan perhatian pada empat protein yang dicurigai bertanggung jawab atas munculnya psoriasis. Temuan yang dipublikasikan pada di Molecular & Cellular Proteomics pada bulan Januari 2015 lalu ini menggambarkan bagaimana psoriasis bisa berkembang bagaimana menghentikannya.
Psoriasis saat ini memang mempengaruhi sekitar 2-3% populasi dunia. Penyebab penyakit sendiri belum diketahui. Nicole L. Ward, PhD dari Case Western Reserve University School of Medicine memfokuskan bagaimana mempelajari patogenesis penyakit dan kemungkinan peluang penyakit penyertanya, misalnya serangan jantung dan stroke. Mereka secara aktif bekerja untuk mengidentifikasi molekul baru, kunci proses penyakit yang bisa menjadi sasaran obat yang potensial.
Psoriasis merupakan penyakit kulit auto imun yang ditandai dengan daerah yang dibatasi kulit merah, timbul dan bersisik yang muncul di seputar area kulit normal. Autoimun muncul karena respon yang abnormal terhadap jaringannya sendiri. Komplikasi psoriasis bisa menyerang persendian yang disebut dengan psoriasis arthritis. Ward dan rekannya mempersempit jalur dengan meneliti 1.280 jenis protein yang diatur berbeda-beda dalam sebuah kondisi. Dari situ, difokuskan pada lima protein yang menonjol baik karena prevalensi yang tinggi pada psoriasis atau menonjol dalam penelitian lain yang berkaitan dengan jaringan psoriasis.
Tim laboratorium Ward mengambil sampel jaringan kulit dari model tikus transgenik psoriasis matang, disebut mouse KC–Tie2 dan membandingkannya dengan sampel jaringan kulit tikus normal. Lab-nya berkolaborasi dengan Mark R. Chance,PhD dari Center for Proteomics and Bioinformatics, CWRU School of Medicine untuk mengidentifikasi protein baru yang diatur secara berbeda yang dalam jaringan kulit tikus psoriasis dibandingkan dengan kulit jaringan tikus sehat.
Menurut Ward adanya identifikasi protein ini pada tikus diharapkan bisa diterapkan juga pada protein kulit dengan psoriasis pada manusia. Semua informasi yang ditemukan dalam peningkatan protein dalam lesi jaringan kulit psoriasis tikus akan dikembalikan ke identifikasi pada manusia. Yang diperlukan untuk penelitian masa depan adalah mengidentifikasi peran dan perkembangan protein tersebut bagi penderita. Penentuan peran masing-masing protein akan membantu memberikan sasaran strategis terapi untuk mengubah arah psoriasis pasien atau setidaknya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana perubahan dalam pengaturan protein ini yang menyebabkan peradangan kulit dan penyakit psoriasis.
Sumber : Sciencedaily
(ast/bt)