Obesitas Tak Selalu Berbanding Lurus Dengan Tingginya Lemak Tubuh
Bentuk tubuh porposional dan langsing belum tentu aman dan tidak mempunyai risiko terhadap penyakit yang berhubungan dengan tingginya lemak tubuh. Ukuran tubuh (gemuk, langsing) bukan menjadi tolak ukur pada seseorang untuk mengembangkan penyakit, intinya ada pada lemak tubuh.
Orang dengan jumlah lemak tubuh yang tinggi mempunyai usia harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mempunyai jumlah lemk tubuh yang sedikit. Sayangnya pengukuran indeks massa tubuh (BMI) yang sering digunakan untuk mengukur obesitas/kegemukan, tidak dikaitkan dengan usia harapan hidup.
Menurut peneliti Dr William Leslie, seseorang yang mempunyai massa otot yang besar, akan terukur sebagai BMI tinggi dan secara teknis akan masuk ke dalam kategori kelebihan berat badan.
Temuan yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine, 8 maret 2016 ini juga memaparkan tentang paradoks obesitas. Dalam sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang mempunyai obesitas disertai dengan penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya justru mempunyai usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang kurus dengan penyakit yang sama.
Sayangnya studi sebelumnya terlalu mengandalkan BMI. BMI yang tinggi bisa juga terjadi karena besarnya massa otot atau tersimpannya lemak baik yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari penyakit kronis.
Tim peneliti mencermati data lebih dari 54.000 orang dewasa yang umumnya berusia 60 tahunan dan sedang menjalani scan DXA (pengukuran kepadatan tulang). Dalam scan ini juga dapat dilihat perkiraan presentase lemak tubuh seseorang. Hasil penelitian memperkirakan bahwa pria dan wanita dengan kadar lemak tubuh tinggi mempunyai usia harapan hidup yang rendah antara empat-tujuh tahun ke depan.
Sedangkan pada orang yang obesitas berdasarkan pengukuran BMI mempunyai usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan BMI 24 atau 25. Pada usia lanjut, hasil BMI bisa saja rendah karena disebabkan oleh memudarnya massa otot.
Paradoks obesitas ini menjelaskan bahwa perlu adanya pertimbangan kembali BMI sebagai indikator kesehatan. Studi telah menemukan bahwa orang-orang yang selalu menjaga kebugaran dengan berolahraga biasanya mempunyai usia harapan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terlalu fokus menjaga pola makan, bahkan ketika mereka kelebihan berat badan.
Intinya, terdapat 2 hal penting yang perlu di perhatikan yaitu menjaga pola makan sehat dan olahraga secara teratur. Lebih baik memperhatikan lemak tubuh terutama ukuran pinggang daripada berusaha diet mati-matian supaya langsing.
Menurut the U.S. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), wanita yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 35 inci memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan diabetes tipe 2, sedang untuk pria, lingkar pinggang lebih besar dari 40 inci menunjukkan peningkatan risiko masalah kesehatan.
(ast/bt)