You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Hati-hati! Keseringan Konsumsi Susu Juga Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

Hati-hati! Keseringan Konsumsi Susu Juga Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

gambar 1Apa yang terlintas dalam pikiran Anda, ketika mendengar kata “susu”?. Melihat iklan di televisi yang menginformasikan aneka jenis susu dan terbagi sesuai usia?. Membaca jargon “nutrisi andalan bagi anak yang susah makan” atau “makanan sehari-hari tidak lengkap tanpa kombinasi susu”?. Atau ketika mengingat slogan “empat sehat lima sempurna”?. Persepsi apapun yang ada dalam pikiran Anda, satu hal yang kita yakini : kita pasti pernah minum susu.

Kebutuhan nutrisi manusia dibagi dua, yaitu makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Di sisi lain, mikronutrien dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang tidak banyak, tetapi tetap harus memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), seperti vitamin dan mineral.

Ahli gizi di berbagai belahan dunia telah berupaya merumuskan komposisi kebutuhan nutrisi tersebut dalam berbagai formula. Di Indonesia dulu dikenal “empat sehat lima sempurna” yang kini sudah diperbarui menjadi “pedoman umum gizi seimbang (PUGS)”. Amerika Serikat dan beberapa negara lain menggunakan konsep piramida makanan, yang membagi proporsi karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah dalam tingkatan-tingkatan. Saat ini Amerika telah merevisi lagi piramida makanannya menjadi piring makanan (food plate) yang ikut di kampanyekan oleh Michelle Obama. Melalui konsep itu, masyarakat diberi pemahaman bahwa ternyata kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak tidak lebih banyak dari pada sayur dan buah dalam tiap porsi makan seseorang. Ini berlaku untuk anak-anak dan dewasa. Dalam konsep piramida makanan, susu dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah yang tidak banyak, berlawanan dengan fakta yang kita hadapi sehari-hari.

Susu dikonsumsi terutama untuk memenuhi kebutuhan kalsium yang mencapai 800 miligram per hari, bukan sebagai sumber utama karbohidrat, protein, dan lemak. Kalsium yang berperan untuk membangun struktur tulang serta mempengaruhi kerja jantung dan pesyarafan, bisa didapatkan dari sumber selain susu, seperti daging dan sayuran. Untuk mendapatkan kadar kalsium yang dibutuhkan tubuh, konsumsi sayur dengan jumlah yang lebih banyak daripada jumlah susu yang diminum.

gambar 2Kalsium dari susu lebih menguntungkan dalam hal mudah diserap usus. Namun, terlalu banyak mengkonsumsi susu berdampak pada rendahnya penyerapan zat besi di usus sehingga beresiko menimbulkan anemia defisiensi besi. Kebanyakan minum susu juga membuat anak kenyang sehingga mengurangi nafsu makan anak untuk makan jenis makanan lain. Anak yang susah makan (picky eater) jika diatasi dengan memperbanyak konsumsi susunya, justru makin membuatnya susah makan. Minum susu melebihi kebutuhan juga otomatis meningkatkan konsumsi lemak yang berdampak jangka panjang terhadap risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hiperkolesterolemia, diabetes melitus, dan penyakit jantung.

Susu hanya dibutuhkan dalam porsi seperlunya, bahkan bisa diganti dengan sumber-sumber makanan lain yang kaya kalsium. Jika mengkonsumsi susu, cukup minum susu cair pasteurisasi atau ultra high temperatur (UHT) dan gunakan yang rendah lemak atau bebas lemak bagi mereka yang berusia di atas 2 tahun. Dan sejalan dengan pernyataan dr. Arifianto, Sp.A yang mengatakan “Minum susu Anda dengan bijak”.

Sumber : dari berbagai sumber

(rsh/dny)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top