Mitos dan Fakta tentang Vaksinasi
Perdebatan mengenai perlu tidaknya vaksin muncul belakangan ini. Vaksinasi yang selama ini dianggap sebagai sebuah keajaiban karena dapat menyelamatkan nyawa dari penyakit infeksi namun kini menjadi sumber keraguan dan ketidakpercayaan.
Vaksinasi sejauh ini telah membebaskan dunia dari berbagai penyakit menular, akan tetapi apakah manfaat vaksinasi lebih besar daripada risikonya?
Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tentang vaksinasi yang dapat membantu membuat segalanya lebih jelas.
- Menjaga dan meningkatkan faktor kebersihan dan sanitasi mampu mencegah penyakit secara efektif sehingga tidak di perlukan vaksinasi. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Pola hidup sehat dengan menjaga higienitas memang dapat melindungi dan mencegah penyakit menular, namun ada beberapa infeksi yang dapat menyebar justru pada lingkungan yang higienis. Jika tidak ada vaksinasi, maka beberapa penyakit seperti polio dan campak dapat muncul kembali.
- Vaksinasi menimbulkan risiko, bahkan bisa berakibat fatal. Hal ini tidak sepenuhnya juga benar. Setelah vaksinasi sebagian besar anak terlihat aman namun ada juga yang mengembangkan gejala-gejala neurologis, kejang dan demam tinggi pada hari-hari setelah mendapatkan vaksinasi. Efek serius ini sangat langka dan dengan hati-hati dipantau dan diselidiki. Vaksinasi sebagian besar diikuti oleh gejala ringan dan sementara, seperti lengan sakit atau demam ringan.
- Menjadi Sakit setelah vaksinasi. Hal ini jarang terjadi, namun sebetulnya tergantung pada vaksin itu sendiri. Sekitar 1 sampai 5 persen dari anak yang divaksinasi gagal mengembangkan sistem kekebalan. Kadang- kadang dibutuhkan dosis tambahan untuk merangsang respon kekebalan tubuh pada anak. Ada juga kemungkinan bagi seorang anak terkena infeksi sebelum vaksinasi, dan mereka mengembangkan gejala sebelum vaksin memiliki waktu untuk bekerja.
- Kekebalan alami selalu lebih baik. Tidak selalu. Masalah dengan kekebalan alami adalah bahwa ada risiko komplikasi, sehingga vaksin mungkin menjadi pilihan yang lebih baik.
- Vaksin berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh menyebabkan respon imun yang mirip dengan respon yang dihasilkan oleh infeksi alami. Namun vaksin tidak menyebabkan penyakit atau menempatkan orang divaksinasi pada risiko komplikasi potensial.

- Vaksin mengandung merkuri, yang berbahaya. Hal ini sebagian benar. Beberapa vaksinasi, seperti suntikan flu, mengandung thiomersal yang mengandung merkuri senyawa yang ditambahkan sebagai pengawet. Namun, hanya ada dalam jumlah kecil saja dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dalam jumlah kecil dapat menimbulkan risiko kesehatan.
- Vaksin menyebabkan autisme. Ini tidak benar. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1998 menemukan kemungkinan adanya hubungan antara campak-gondong-rubela (MMR) dan autisme. Penelitian ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang vaksinasi dan sebagai hasilnya, tingkat imunisasi turun, menyebabkan wabah penyakit. Penelitian ini kemudian ditarik oleh jurnal yang diterbitkan. Tidak ada bukti hubungan antara vaksinasi dan autisme atau gangguan autis.
Sumber : Healthmeup
(rsh/bt)