Ketidakseimbangan Bakteri Menyumbang Peradangan Usus dan Karsinogenesis
Keti
dakstabilan komposisi bakteri usus (dysbiosis) telah dikaitkan dengan gangguan umum pada usus, termasuk penyakit radang usus dan kanker kolorektal, namun tidak jelas apakah dysbiosis dapat memicu penyakit atau merupakan konsekuensi dasar gangguan-gangguan tersebut. Dalam Journal of Clinical Investigation, penelitian yang dipimpin oleh Mathias Chamaillard di the University Lille Nord de France in Lille, Prancis, menguji peradangan usus dan pembentukan tumor dalam model tikus yang didysbiosis. Dysbiosis meningkatkan risiko peradangan yang berhubungan dengan kanker usus besar.
Di sini di tunjukkan bahwa dysbiosis disebabkan oleh defisiensi nucleotide-binding oligomerization domain–containing protein-2 (NOD2) menimbulkan risiko, menyebabkan kolitis yang terkait karsinogenesis pada tikus. Hilangnya baik NOD2 atau RIP2 menghasilkan proinflamasi mikro yang meningkatkan pelebaran epitel dan luka karena zat kimia. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan pengobatan dengan antibiotik atau penetralantibodi anti-reseptor interleukin-6. Pengobatan dengan antibiotik atau transplantasi fekal pada tikus normal mengurangi risiko penyakit dan pengaruh jangka panjang yang bermanfaat dalam bakteri usus. Sebaliknya, transplantasi tikus normal dengan dysbiotic fecal meningkatkan risiko dan peradangan usus yang dapat terkait kanker usus besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NOD2 memiliki peran yang tak terduga dalam membentuk pelindung komunitas bakteri usus dan menyarankan pendekatan terapi yang potensial dalam pengobatan gangguan usus manusia.
Sumber : ecancer
(ast/bt)
Baca juga :
Kenapa Penderita Hemofilia Mengalami Pendarahan???