You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » 5 Kondisi Salah Diagnosa Sebagai ADHD

5 Kondisi Salah Diagnosa Sebagai ADHD

ADHDSalah diagnosa yang dikira sebagai ADHD bisa saja dialami oleh psikiater atau ahli jiwa. Kemungkinan berikut ini bisa disangka sebagai ADHD pada anak.

  1. Stress dan cemas. Menurut South African Depression and Anxiety Group (SADAG), ada beberapa faktor yang bisa mendatangkan kecemasan misalnya ketidakpastian ekonomi, tingkat kriminalitas lingkungan, bisa mempengaruhi tingkat stress keseharian. Kesulitan konsentrasi pada pasien menjadi penyebab salah diagnosa, disangka ADHD ternyata karena cemas dan stress.
  2. Kurang berolahraga. Berolahraga atau rajin beraktivitas melepaskan stress dan ketegangan. Banyak anak yang kurang olahraga jadi tidak teratur gerakannya, misalnya keseringan cari perhatian lebih, misalnya loncat-loncat. Olahraga dapat membuat anak lebih senang, kurang hiperaktif, kurang stress dan cemas. Anak lelaki yang kurang berolahraga/bergerak bisa cenderung lebih kasar dari anak perempuan.
  3. Kadar gula darah yang terlampau rendah mengakibatkan perilaku mirip dengan ADHD misalnya agresif, hiperaktif, tidak bisa diam, mudah marah dan konsentrasi sangat rendah.
  4. Defisiensi Gizi. Berdasarkan University of Maryland Medical Centre, kekurangan gizi berikut ini dapat meningkatkan gejala seperti ADHD, yaitu: Magnesium (mudah tersinggung, penurunan fungsi kognitif dan kebingungan), Vitamin B6 (berfungsi memperbaiki keseimbangan serotonin, dopamin dan norepinefrin, pada anak ADHD keadaan ini terganggu), Zink/seng (dapat membantu meningkatkan perilaku positif), asam lemak omega-3 dan 6, L-carnitine (meningkatkan fungsi perilaku pada anak kecenderungan ADHD dan sejenisnya).
  5. Kemampuan belajar. Beberapa spektrum misalnya disleksia, anak dengan masalah pendengaran dan penglihatan, ketidakmampuan bersosial dan intelektual, juga mirip dengan ADHD.

Yang terpenting ketika anak terkesan mendapatkan masalah perilaku, diagnosa lah ke ahli nya, tidak mendiagnosa sendiri karena akan membuat anak justru menjadi rendah diri. Selain itu juga bisa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari sekeliling misalnya dibully. Jadi, tetap diskusikan dengan dokter/ahli kesehatan jiwa.

Sumber : health24.com

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top