You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Mitos-Mitos yang berkembang pada HIV/AIDS

Mitos-Mitos yang berkembang pada HIV/AIDS

mitos-dan-fakta-hiv-aids-yang-harus-anda-tahuHIV/AIDS sudah semakin mewabah. Dua puluh tahun lalu, penyakit ini menjadi berita utama kesehatan dimana-mana. Sampai 2016 ini, ada sekitar 35 juta jiwa penduduk dunia hidup dengan HIV, bahkan lebih dari setengahnya tidak menyadari kalau mereka terinfeksi HIV. WHO menyatakan, HIV/AIDS sejak tahun 1981 telah membunuh sekitar 39 juta orang. Namun walau begitu, masih banyak saja ketidakpahaman dan mitos yang berhubungan dengan penyakit ini.

  1. HIV seperti hukuman mati.

Menurut Dr. Michael Horberg, direktur  HIV/AIDS untuk Kaiser Permanente, bahwa orang dengan HIV/AIDS yang melakukan pengobatan dengan tepat, dapat hidup normal.  Dr. Amesh A. Adalja adalah seorang dokter dari University of Pittsburgh, mengatakan bahwa sejak tahun 1996, terapi yang sangat aktif untuk penderita HIV seperti antiretroviral sangat membantu penderita karena dapat menjalani hidup normal, asalkan mereka berobat sesuai dengan resep yang diberikan.

  1. Orang dapat mengetahui seseorang penderita HIV/AIDS hanya dengan memandang.

Sebenarnya, tanda-tanda HIV/AIDS pada setiap penderita berbeda. Ada orang yang gejalanya muncul tidak berapa lama terinfeksi HIV. Bahkan gejala ada yang sampai memakan waktu 10 tahun untuk muncul. Jadi, seseorang akan sulit mengetahui apakah orang lain terinfeksi HIV atau tidak.

  1. Orang baik tidak mungkin terkena HIV/AIDS

Menurut Dr Horberg dari CDC, bahwa kelompok risiko tertinggi adalah pria yang berhubungan seks dengan sesama pria sekitar 78%. Lalu terjadi pada heteroseksual yang menyumbang 24% infeksi HIV baru pada tahun 2010, dan sekitar dua-pertiga dari mereka adalah perempuan.

  1. Orang dengan HIV tidak bisa memiliki anak

Mungkin sekali seseorang penderita HIV dan pasangannya memiliki anak. Meskipun tidak menjamin infeksi tidak tertular pada anak, the U.S. Department of Health and Human Services lebih mengupayakan kemanusiaan. Misalnya seorang wanita dengan HIV bisa terapi anti retrovirus sebelum dan saat kehamilan. Selama pasangan berobat dengan benar dan tidak memiliki beban virus yang lebih, anak akan cenderung kecil bahkan nol kemungkinan terinfeksi.

  1. HIV selalu mengarah ke AIDS

HIV merupakan infeksi yang menyebabkan AIDS. Namun tidak semua yang terinfeksi HIV mengembangkan AIDS. Dengan sistem terapi, tingkat infeksi HIV dapat dikontrol dan rendah, dengan menjaga sistem kekebalan tubuh untuk waktu lama dan mencegah dari infeksi oportunistik dan diagnosis AIDS.

  1. Dengan semua perawatan modern, HIV bukan masalah besar.

Sikap semacam ini salah dan menyebabkan sembrono untuk perilaku seksual. Banyak kejadian kasus infeksi tingkat tinggi pada pria muda hubungan dengan sesama. Perilaku penyimpangan seksual tetap mesti dihindari.

  1. Dengan PrEP, seseorang tidak perlu lagi memakai kondom

PrEP (pre-exposure prophylaxis) adalah obat yang dapat mencegah infeksi HIV lebih dahulu. Menurut Dr Horberg, penelitian terbaru dari Kaiser Permanente diikuti orang menggunakan PrEP selama dua setengah tahun, menemukan bahwa metode ini efektif mencegah infeksi HIV. Bagaimanapun juga, PrEP tidak melindungi terhadap penyakit atau infeksi menular seksual lainnya. PrPP dianjurkan untuk digunakan dalam kombinasi dengan praktik seks yang lebih aman. Penelitian juga menunjukkan bahwa setengah dari pasien berpartisipasi didiagnosis dengan infeksi menular seksual setelah 12 bulan.

  1. Orang yang negatif HIV dapat berhubungan tanpa kondom

Seseorang dapat terinfeksi HIV setelah tiga bulan tes berlalu. Sedang antibodi dapat dideteksi tiga minggu setelah terinfeksi. Jadi, resikonya tetap tinggi jika tidak melakukan seks aman.

  1. Jika kedua pasangan terkena HIV, tidak ada alasan gunakan kondom

Tipe infeksi HIV dapat berbeda tiap strain. Terinfeksi lebih dari satu dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih luas atau super infeksi. Strain HIV baru dapat menunjukkan profil resistensi obat yang berbeda dari infeksi HIV asli. Dan virus baru bisa menunjukkan perlawanan terhadap pengobatan saat ini atau menyebabkan pilihan pengobatan saat ini tidak efektif.

Sumber : healthline.com

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top