Bahaya Seks Bebas pada Remaja
Peningkatan jumlah anak muda yang berhubungan seks telah menjadi perhatian khusus di era modern ini. Persentasenya telah meningkat menjadi 111 persen di Perancis, 39 persen di Amerika Serikat dan 19 persen di Inggris dalam tiga tahun terakhir. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada tahun 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa:
-
Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, dan oral seks.
-
Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.
-
Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan.
Dokter Boyke sebagai dokter spesialis obsetri dan ginekologi memaparkan dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak di inginkan. Selain tentunya terjadi kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak di inginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut bila lahir ke dunia, apabila ibunya sudah tidak menghendaki.
Kejadian tersebut akan meningkatkan resiko bayi lahir cacat atau bahkan meningkatkan jumlah angka kematian ibu. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.
Bagi para orangtua yang memiliki anak remaja mungkin akan menjadi lebih was-was dalam
menjaga anak perempuan mereka agar tidak “kebobolan”, inilah saatnya bagi para orangtua untuk berkomunikasi dengan si buah hati, memberikan pemahaman yang cukup jelas tentang pergaulan bebas dan dampak yang akan ditimbulkan, tidak cukup sampai disitu, orangtua juga harus menekankan prinsip tersebut, memfokuskan anak untuk mencapai prestasi yang bisa membuat bangga dirinya serta keluarganya.
(ang/bt)