Pahitnya Rasa Pare Musuh Diabetes
Pare atau paria merupakan golongan sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat cina, asia pada umumnya, afrika, karibia dan amerika selatan. Mereka menggunakannya selain sebagai makanan, juga sebagai obat. Sayuran ini berwarna hijau dan berubah warna merah kalau sudah terlalu tua. Pare menjadi makanan wajib di Okinawa, jepang dan dianggap sebagai makanan panjang umur. Saat ini, para peneliti sibuk mencari mekanisme kerja pare untuk mengobati diabetes.
Meskipun bukti riset pada manusia belum kuat, studi laboratorium menunjukkan bahwa pare memiliki tindakan hipoglikemik (penurun glukosa darah) dan membantu mengontrol kadar insulin. Pare mengandung charantin, ditambah alkaloid dan peptida yang menyerupai insulin. Zat-zat ini juga dapat memicu produksi protein yang mendorong penyerapan glukosa dalam tubuh.
Charantin ada untuk merangsang pertumbuhan sel-sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel beta (jenis diabetes yang mengalami malfungsi pada sel beta). Studi laboratorium juga menunjukkan bahwa pare memiliki sifat antivirus dan antibakteri sehingga efektif mengatasi gangguan yang disebabkan oleh salmonella dan infeksi E. coli, virus herpes dan HIV, malaria dan cacing parasit. Ekstrak protein pare diklaim dapat menghambat pertumbuhan tumor prostat dan sejumlah studi in vitro pare memiliki potensi untuk memerangi kanker lain dan leukemia.
Secara tradisional pare dapat dikonsumsi sebagai jus, rebusan bahkan dimakan segar. Belakangan ekstrak pare juga tersedia dalam bentuk tablet, kapsul atau bubuk dan ikuti petunjuk penggunaan.
Namun sebaiknya berhati-hati jika konsumsi pare bersamaan dengan obat penurun glukosa darah. Pare juga bertindak sebagai stimulan pada rahim yang menyebabkan rahim lemah sehingga tidak dianjurkan selama kehamilan dan menyusui.
Sumber : rdcom
(ast/bt)