You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Mengenal Hearthburn (Panas Dada) Ketika Asam Lambung Naik

Mengenal Hearthburn (Panas Dada) Ketika Asam Lambung Naik

heartburn-indigestionPada sebagian besar orang yang mempunyai gangguan lambung, umumnya pernah mengalami heartburn (panas dada) ketika asam lambung naik ke tenggorokan, kondisi ini juga disebut sebagai acid reflux atau refluks asam. Nama lain untuk gangguan ini disebut juga sebagai regurgitasi asam, asam gangguan pencernaan dan gastroesophageal reflux (GERD). Dikatakan refluks asam jika gejalanya terjadi lebih dari 2x seminggu dengan sensasi terbakar di dada, regurgitasi, kesulitan menelan dan perasaan kenyang yang berlebihan.

Refluks asam terjadi ketika otot di ujung kerongkongan (sfingter esofagus bagian bawah atau LES) tidak menutup cukup erat. LES seharusnya terbuka untuk waktu yang sangat singkat ketika kita menelan. Jika tidak menutup dengan benar atau terlalu sering longgar, cairan pencernaan dan isi lambung dapat bergerak kembali ke kerongkongan. Pemicunya bisa karena kebanyakan makan, stress, banyak minum berkarbonasi, kopi, alkohol, makanan tertentu (bawang putih, bawang merah, gorengan, makanan tinggi lemak jenuh, makanan pedas, jeruk, tomat, coklat, daun mint), kegemukan, hernia hiatus (bagian tojolan lambung diatas diagfrahma ke dada). Refluks juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan dan genetik. Gen memainkan peran dalam pergerakan otot lambung dan kerongkongan.

Beberapa studi yang menunjukkan bahwa refluks disebabkan oleh genetic adalah sebagai berikut:

Studi pertama dilakukan pada kembar identik. Studi yang diambil dari jurnal Alimentary Pharmacology dan Therapeutics menyebutkan bahwa jika keduanya memiliki penyakit kemungkinan di sebabkan karena ganetik dan lebih mungkin menderita GERD. Penelitian ini melibatkan 481 kembar identik dan 505 kembar fraternal. Terlihat bahwa hubungan lebih kuat pada kembar identik dibanding kembar fraternal. Hal ini menunjukkan bahwa genetika memainkan peran dalam menyebabkan refluks asam. Studi sebelumnya dalam jurnal Gut juga menunjukkan bahwa kembar identik mempunyai risiko 1,5x menderita GERD jika saudara kembarnya menderita penyakit yang sama. Penelitian ini melibatkan 2.000 pasang kembar identik.

Studi kedua dengan melihat genetic keluarga. Penelitian di University of Amsterdam menemukan pola pewarisan GERD terjadi dikeluarga multi generasi. Dari 28 anggota keluarga yang berpartisipasi dalam studi ini, 17 anggota dari empat generasi terpengaruh dengan GERD. Namun, para peneliti tidak bisa menentukan gen tertentu.

Ketiga. Baret esofagus. Baret esofagus merupakan komplikasi serius GERD yang terkait dengan peningkatan risiko kanker esophagus. Genetika mungkin memainkan peran sangat penting dalam penyakit ini. Sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal Nature Genetics menemukan varian gen tertentu pada kromosom 6 dan 16 yang dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap baret esofagus. Studi ini menemukan bahwa gen enkoding protein yang paling dekat dengan varian ini adalah FOXF1, yang terhubung ke pengembangan dan struktur kerongkongan. Sebuah artikel di Jurnal Kanker Internasional juga melaporkan hubungan antara FOXF1, baret esofagus dan kanker kerongkongan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology menemukan bahwa semua pasien (363 pasien) mempunyai polimorfisme tertentu (variasi dalam DNA) disebut GNB3 C825T. Sedangkan pada kontrol (orang sehat) tidak ditemukan Polimorfisme.

heartburnPerawatan GERD lebih baik dilakukan dengan obat dan perubahan pola hidup untuk mengurangi gejala dan memperburuk komplikasi. Hal yang bisa dilakukan misalnya:

  1. Hindari makanan yang dapat memicu, misalnya kopi, cokelat, minuman berkarbonasi.

  2. Hindari makanan yang bisa mengiritasi lapisan kerongkongan misalnya jeruk, jus tomat, cabe.

  3. Turunkan berat badan jika berlebihan.

  4. Berhenti merokok

  5. Tidak makan minimal 2 jam sebelum tidur.

  6. Tidak memakai pakaian ketat

  7. Hindari minuman beralkohol.

  8. Pengobatan dengan obat jenis antasida, H-2 Blockers, OTC-Strength Proton-Pump Inhibitors (PPIs).

Sumber : Healthline

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top