Vaksin Malaria Baru Ditemukan
Malaria, penyakit yang jadi endemik di beberapa wilayah dunia, seperti Afrika, India dan Indonesia. Di Indonesia, wilayah yang sering terkena adalah wilayah Indonesia Timur (Papua, Maluku dan kepulauannya) dan Indonesia barat (Sumatera dan kepulauannya). Berdasarkan hasil survei dari PLOS ONE tahun 2010, terdapat sekitar 1,238 juta penduduk Indonesia beresiko terhadap malaria. Ketika sudah sakit, maka penderita bisa mendapatkan satu atau lebih jenis parasit malaria di dalamnya. Pengobatan selama ini hanya dengan meminum obat anti malaria seperti misalnya mefloquine, doxycycline atau malarone. Ada satu hal menggembirakan yang dikabarkan dalam science daily yang terlebih dulu dipublikasikan dalam The Journal Science bahwa telah ditemukan vaksin malaria yang aman bagi orang dewasa dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh.
Vaksin itu bernama PfSPZ yang dikembagkan oleh para ilmuwan di Sanaria Inc, Rockville, Md. Evaluasi klinis dilakukan oleh the National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) bagian dari the National Institutes of Health yang juga bekerjasama dengan the Walter Reed Army Institute of Research dan the Naval Medical Research Center, keduanya Silver Spring, Md. Vaksin PfSPZ melemahkan sporozoit malaria palcifarum sebagai malaria yang paling berbahaya.
Percobaan tahap satu dilakukan di NIH centre di Bethesda dengan 57 relawan dewasa antara 18-45 tahun yang tidak pernah menderita malaria. 40 relawan menerima vaksin dan 17 relawan tidak menerima vaksin. Setelah itu diberikan sekitar 2-6 dosis intravena PfSPZ dan dimonitor ketat selama 7 hari. Setelah itu diteliti dan ditemukan bahwa orang yang diberikan vaksin tingkat sel T nya lebih banyak. Sel T bertanggung jawab untuk kekebalan tubuh. Masing masing relawan diberikan gigitan nyamuk malaria falciparum, kemudian di kontrol dan di rawat di RS NIH.
Lalu para peneliti mengarahkan dengan dosis tinggi PfSPZ memberikan perlindungan anti malaria. Diantara 12 relawan yang tidak menerima vaksin, 11 diantaranya terinfeksi nyamuk malaria. Dari 15 relawan yang diberikan dosis tinggi vaksin, 3 diantaranya terinfeksi malaria dan dari 17 relawan yang diberikan dosis rendah vaksin, 16 diantaranya terinfeksi. Penelitian berikutnya yang perlu dikembangkan adalah cara penyuntikan vaksin, dosis, dan kemungkinan perkembangan strain (jenis) malaria falciparum. Penelitian ini cukup menggembirakan dimana kejadian dan strain malaria terus berkembang.
Sumber: sciencedaily
(ast/vie)