Antisipasi Kemenkes dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno Hatta Dalam Mencegah Masuknya Virus Zika
Virus Zika tak henti-hentinya menjadi fokus di seluruh dunia, tidak saja pada Negara yang terserang wabah ini namun juga di Negara lainnya. Upaya pencegahan dengan langkah mengantisipasi masuknya virus tengah di persiapkan oleh beberapa Negara salah satunya Indonesia meski belum ditemukan penderita yang terinfeksi.
Berdasarkan data yang di rilis oleh WHO hingga tanggal 8 September 2016 tercatat lebih dari 250 kasus Zika di Singapura, yang merupakan Negara tetangga Indonesia.
Untungnya pemerintah melalui Kemenkes cepat tanggap dan segera melakukan upaya pencegahan. Antisipasi masuknya virus Zika di Indonesia di titik beratkan pada Bandara Soekarno Hatta yang merupakan vector utama penyebaran penyakit.
Bersama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sebanyak 600-1000 Lavitrap dipasang di beberapa lokasi Bandara Soekarno Hatta untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit. Upaya ini bukanlah yang pertama dilakukan, sebelumnya KKP bahkan telah memasang thermal scanner yang berfungsi untuk indentifikasi suhu tubuh pada penumpang. Sayangnya tehnik ini kurang efektif mengingat masa inkubasi Virus Zika 2-7 hari setelah terinfeksi dengan gejala demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki serta nyeri otot sendi disertai mata merah dan sakit kepala.
Namun tidak semua menunjukkan gejala demam, bahkan hanya 1 diantara 5 penderita yang mengalami peningkatan suhu tubuh sehingga penggunaan thermal scan menjadi kurang efektif.
Lavitrap atau perangkap larva ini berfungsi sebagai perangkap nyamuk Aedes saat bertelur dan berkembang menjadi larva, kemudian larva akan bergerak ke dasar dan terperangkap dibawah kasa sehingga larva tidak bisa berkembang menjadi nyamuk dewasa dan akan mati dengan sendirinya.
Sumber : depkes
(bt/bt)