You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Apa Hubungan Rematik dengan Merokok?

Apa Hubungan Rematik dengan Merokok?

merokokReumatoid Arthritis (rematik/ RA) merupakan penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh yang menyerang sendi. Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang menderita RA diantaranya adalah lingkungan. Salah satunya adalah gaya hidup sebagai perokok yang akan menambah resiko. Wanita mempunyai risiko lebih besar 3x RA dibandingkan pria. RA menyebabkan penebalan dan peradangan sendi sinovial sehingga menimbulkan rasa sakit dan bengkak.  Sendi yang diserang RA adalah kaki, tangan, pergelangan tangan, siku, lutut, pergelangan kaki dan sendi buku jari.

Saat RA menyerang, umumnya akan menimbulkan bengkak, kemerahan, nyeri terutama pada pagi hari. Setidaknya 30 menit penderita akan merasakan sakit dan bisa berlangsung selama beminggu-minggu. Selain mengalami gejala umum nyeri sendi, terkadang terjadi pula gejala lain misalnya hilang nafsu makan, kelelahan, mata kering, terlalu sensitif atau nyeri, benjolan pada kulit dan peradangan pembuluh darah. Dunia medis belum menemukan cara menyembuhkan RA. Namun penggunaan obat dapat digunakan untuk merawat RA. Pada kasus yang parah, RA dapat menyebabkan tidak adanya pergerakan dan deformitas sendi.

Lalu.. apa hubungan antara RA dan merokok? Sebuah studi yang dipublikasikan Arthritis Research and Therapy menemukan bahwa pada perokok ringan dihubungkan dengan peningkatan risiko RA. Hal ini juga menunjukkan bahwa merokok setiap hari bisa meningkatkan lebih dari dua kali risiko (pada wanita) dalam mengembangkan RA. Kemungkinan pengembangan RA menurun setelah berhenti merokok dan keseluruhan risiko terus menurun seiring berjalannya waktu ketika mulai berhenti.

Risiko keseluruhan peserta menurun sebesar sepertiga, 15 tahun setelah mereka berhenti merokok. Risiko RA masih jauh lebih tinggi pada mantan perokok, 15 tahun setelah berhenti merokok dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah merokok.

Periset melihat bahwa merokok merubah fungsi kekebalan yang salah apalagi jika memang secara genetik sudah mengembangkan RA. Merokok juga dapat mengganggu keefektifan obat RA atau treatment lainnya juga menggangu program olahraga. Efek rokok juga dapat menyebabkan komplikasi jika diperlukan pembedahan karena mempengaruhi anestesi dan metabolisme obat, detak jantung, pernapasan dan tekanan darah. Ketika tidak merokok, kondisi akan lebih baik pasca operasi. Kebanyakan perokok tidak sadar, bahwa sebenarnya merokok memperburuk kondisi RA.

Jalan satu-satunya adalah berhenti merokok. Caranya misalnya dengan berkonsultasi pada dokter, berkumpul dengan grup pendukung yang sama-sama berniat keras berhenti merokok, meminta bantuan orang terdekat bekerjasama mendukung berhenti merokok, banyak beraktivitas yang mengalihkan untuk tidak merokok. Karena nikotin bersifat adiktif/ketagihan, maka ketika berhenti, boleh jadi tubuh menjadi gelisah, tertekan, cemas, frustasi, marah. Tubuh mungkin juga akan mengalami peningkatan berat badan dengan berkurangnya nikotin. Berhenti merokok memerlukan dukungan emosional bersama, namun jauh lebih menyehatkan jika tidak ingin RA bertambah buruk.

Sumber : healthline.com

(ast/bt)

 

 

 

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1904

Leave a Comment

Scroll to top