You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Waspada Difteri

Waspada Difteri

DifteriLagi, Indonesia menjadi sorotan badan kesehatan dunia karena wabah KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri. Diperkirakan terjadi 600 kasus yang terdeteksi di 20 propinsi dengan 95 wilayah dan telah merenggut 32 jiwa anak di akhir tahun 2017 ini (WHO). Indonesia, sebenarnya sudah mampu menanggulangi difetri dan kasusnya sudah jarang ditemukan. Namun ternyata kesadaran masyarakat akan kesehatan masih rendah terlebih berkembangnya komunitas anti vaksinasi dalam beberapa tahun belakangan ini, sehingga memicu terjadinya KLB difteri.

Difteri, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae, banyak diderita anak-anak , ditularkan melalui batuk atau bersin. Selain itu, juga bisa disebabkan oleh adanya kontak secara langsung dengan penderita maupun tidak seperti dari mainan atau benda lainnya yang sebelumnya tersentuh oleh penderita.

Gejala akan muncul dalam waktu 2 sampai dengan 5 hari setelah terinfeksi. Bakteri masuk, menempel pada lapisan sistem pernafasan, mengeluarkan toksin sehingga tubuh anak akan lemah; demam; sakit tenggorokan bahkan sulit berbicara; bengkak pada kelenjar di leher; nafas tersengal-sengal, cepat. Dalam dua hari, toksin bakteri akan membuat jaringan berwarna keabuan (pseudomembrane), menghambat jalan nafas hidung dan tenggorokan, amandel, pita suara. Akhirnya, anak akan kesulitan bernafas, toksin masuk ke aliran darah, menyebabkan kerusakan pada otot jantung (muokarditis), ginjal (polyneuropathy), kelumpuhan, infeksi paru (pneumonia) dan syaraf sehingga berakhir pada kematian. Jika tidak segera diobati, 1 dari 2 anak akan berujung pada kematian. Penanganan dan pengobatan yang tepat akan memperkecil risiko kematian yaitu 1:10.

Penderita difteri harus diisolasi dengan orang lain agar tidak menular.Setelah diagnosa ditegakkan, pasien akan diberikan antitoksin dan antibiotik. Jika sangat darurat, maka akan dibuatkan jalan napas. Antibiotik yang bisa diberikan yaitu eritromisin oral atau injeksi (40 mg / kg / hari; maksimum 2 gm / hari) selama 14 hari atau procaine penicillin G setiap hari, secara intramuskular (300.000 unit setiap 12 jam untuk berat badan 10 kg atau kurang dan 600.000 unit setiap 12 jam untuk berat lebih dari 10 kg) selama 14 hari. Penicillin oral V 250 mg 4 kali sehari diberikan pengganti untuk yang bisa menelan.Penularan akan berhenti setelah 48 jam pemberian antibiotik. Jika tenggorokan sudah terlanjur kena membran abu-abu, maka membran itu harus segera diangkat.

Untuk orang disekitar penderita, terutama satu rumah, wajib diberikan antibiotik eritromisin oral 7 – 10 hari (40 mg / kg / hari untuk anak-anak dan 1 g / hari untuk orang dewasa). Semua orang dekat penderita sebaiknya diawasi secara ketat agar tidak mudah tertular, terutama jika ada luka. Begitu juga bagi petugas medis atau yang sebelumnya membantu penderita.

Tidak ada jalan lain untuk mencegah difteri selain dengan antibiotik dan vaksin. Kita mengenal vaksin DPT (Difteri Tetanus dan Pertusis) yang dapat diberikan pada anak usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, 4 sampai 6 tahun. Pengawasan dilakukan jika anak memang menderita alergi vaksin misalnya demam, sedikit kejang atau gatal. Vaksin dapat bekerja selama 10 tahun dan anak sebaiknya divaksin lagi di usia 12 tahun. Bagi orang dewasa, disarankan vaksin suntikan diphtheria dan tetanus gabungan, disebut vaksin tetanus-diphtheria (Td).

(ast/bt)

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1782

Leave a Comment

© 2012 - www.mausehat.com

Scroll to top