You Are Here: Home » Warta Sehat » Umum » Tentang Hepatitis C

Tentang Hepatitis C

hepatitis cHepatitis C merupakan infeksi serius pada liver disebabkan oleh Virus Hepatitis C. Empat hepatitis yang umum selain Hepatitis C yaitu Hepatitis A, B, D dan E. Hepatitis C ditularkan melalui darah dari orang yang terinfeksi melalui jarum suntik (termasuk jarum tatto yang tidak steril), jarum suntik bekas pada pelayanan kesehatan, hubungan seks tanpa pengaman.

Jika kondisi tubuh kuat namun terinfeksi virus Hepatitis C, maka dalam beberapa bulan tubuh akan menghilangkan sendiri virus itu. Hanya, banyak faktor menjadikan virus tetap ada dan membentuk jaringan parut pada liver, kanker hati, gagal liver bahkan kematian.

Hepatitis akut dapat terjadi sekitar beberapa minggu atau bulan setelah tubuh  terinfeksi. Akut berarti penyakitnya mendadak dan berumur pendek, terjadi dalam dua minggu pertama sampai enam bulan infeksi. Sekitar 25% infeksi Hepatitis C dapat diatasi tubuh.

Terdapat perawatan khusus bagi Hepatitis C akut, hanya penyakit ini muncul dengan sedikit gejala. Jika ada, yaitu demam, kelelahan, serta gejala mirip flu lainnya yang dianggap biasa. Gejala yang cenderung tidak dirasakan akan menyebabkan infeksi kronis.

Sekitar 75-85% penderita Hepatitis C akut akan berubah menjadi Hepatitis C kronis dalam jangka waktu 6 bulan atau lebih. Infeksi ini bahkan tanpa gejala, namun dapat menyebabkan kegagalan liver.

Hepatitis C disebut “silent killer” karena virus ini sering bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun, lolos terdeteksi dan akhirnya merusak liver. Karena kebanyakan orang tidak memiliki tanda peringatan hepatitis C (tidak tahu bagaimana atau kapan mereka terinfeksi), mereka tidak berobat sampai bertahun-tahun kemudian. Pada saat gejala hepatitis C muncul atau diagnosis terjadi, kerusakan sudah terlanjur terjadi.

Gejala yang sering muncul adalah kelelahan, demam, nyeri otot, tidak nafsu makan, mual, muntah, nyeri bagian kanan atas perut, urin berwarna kuning tua, kulit dan mata kekuningan (jaundice), kulit gatal, warna kotoran pucat, mudah berdarah dan memar. Satu dari empat penderita Hepatitis C kronis akan dapat mengembangkan sirosis, jaringan parut yang parah dengan gejala tambahan  pembengkakan kaki dan perut, pembuluh darah mirip laba-laba, penumpukan racun di aliran darah yang dapat menyebabkan kerusakan otak.

Hepatitis C kronis juga merupakan salah satu penyebab utama kanker liver, yang memiliki banyak gejala yang sama seperti yang dialami oleh orang-orang yang menderita hepatitis C selama bertahun-tahun, termasuk kelelahan, demam, kembung, nyeri di sisi kanan, dan ikterus/jaundice/sakit kuning.

Pada tahapan sederhana dan tanpa gejala, pemeriksaan darah rutin dapat membantu. Dokter dapat mendiagnosis dengan menekan perut bagian atas, apakah mengalami pembesaran/tidak. Tes screening dapat mengetahui apakah seseorang mengembangkan anti virus Hepatitis C atau tidak. Jika hasil tes positif, berarti sudah terkena virus.

Tes darah kedua bisa mengkonfirmasi apakah virus tersebut saat ini ada di aliran darah atau tidak. Tes mendeteksi materi genetik virus hepatitis C, yang disebut RNA. Jika  tes positif, itu berarti terkena infeksi. Jika tidak, itu berarti tubuh  membersihkan infeksi. Tes darah ketiga mungkin diperintahkan untuk menentukan “genotipe,” atau strain virus. Informasi ini dapat membantu dokter memilih pengobatan yang tepat. Biopsi liver dapat dilakukan untuk memeriksa hepatitis C kronis. Tes ini dilakukan di rumah sakit atau fasilitas rawat jalan. Jarum biopsi tipis dimasukkan untuk mengekstrak sampel kecil jaringan liver. Pasien dapat diberi obat penenang dan obat pereda nyeri.

Tehnik pengobatan Hepatitis C pada dasarnya sudah membaik dari tahun ke tahun, bahkan virus dapat dihilangkan dengan efek samping kecil. Jenis pengobatan yang diterima tergantung pada genotipe dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan liver. Beberapa obat terbaru untuk genotipe hepatitis C 1, 2, dan 3 meliputi: Daclatasvir (Daklinza); Elbasvir / grazoprevir (Zepatier); Ledipasvir (Harvoni); Ombitasvir, paritaprevir, dan ritonavir dengan tablet dasabuvir (Viekira Pak); Sofosbuvir / velpatasvir (Epclusa); Sofosbuvir (Sovaldi); Daclatasvir (Daklinza) dengan sofosbuvir (Sovaldi); dan Sofosbuvir / velpatasvir (Epclusa).

Apa yang dapat menyebabkan orang beresiko terkena Hepatitis C?

  1. Menerima donor dari orang yang darahnya terinfeksi Hepatitis C.
  2. Mendapatkan donor misalnya faktor pembekuan darah untuk mengobati kelainan pendarahan, seperti hemofilia, sebelum 1987.
  3. Lahir dari ibu dengan Hepatitis C
  4. Bekerja di tempat pelayanan kesehatan yang terpapar darah meski tidak disengaja atau terpapar benda tajam
  5. Gonta ganti pasangan seks, riwayat penyakit menular seksual atau pasangan seks yang memiliki hepatitis C kronis.
  6. Terinfeksi HIV
  7. Memiliki tattoo atau tindik
  8. Hemodialisis
  9. Memiliki penyakit liver atau fungsi liver tidak normal
  10. Hubungan seks sesama jenis

 

sekitar 60-70% orang yang menderita Hepatitis C akan berubah menjadi kronis. Namun sekarang ini, sekitar 90% dapat sembuh. Tidak ada salahnya seseorang memperhatikan berikut ini, yaitu:

  1. Jangan berbagi jarum suntik atau perlengkapan obat lain dengan orang lain.
  2. Jangan menyumbangkan darah, organ atau sperma jika memang sudah terinfeksi.
  3. Jangan melakukan hubungan seks tanpa kondom
  4. Tutup luka dan lecet.
  5. Gunakan desinfektan untuk membersihkan tumpahan darah
  6. Cuci dengan sabun dan air untuk mengeluarkan darah dari tangan
  7. Hati-hati membuang perban, tisu, tampon dan benda-benda berdarah lainnya
  8. Jangan berbagi barang yang mungkin berhubungan dengan darah termasuk sikat gigi, gunting kuku, dan pisau cukur.
  9. Berhenti menyusui jika puting susu seorang ibu pecah-pecah dan berdarah. Seorang ibu dapat melanjutkan perawatan setelah puting susu sembuh. (Hepatitis C tidak ditularkan melalui ASI)

 

 

Sumber : health.com

 

(ast/bt)

 

 

 

 

 

 

About The Author

Situs Resmi Kesehatan, Gizi & Farmasi.

Number of Entries : 1759

Leave a Comment

© 2012 - www.mausehat.com

Scroll to top